Jangan Diabaikan, Waspada Alarm Tubuh bagi Para Pemudik Lebaran

1 week ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Kecelakaan maut di KM 58 Tol Cikampek pada mudik lebaran, 8 April 2024 lalu masih lekat dalam ingatan. Saat itu saya bersama tim liputan CNN Indonesia berada di tempat kejadian perkara kurang dari 30 menit setelah kecelakaan yang melibatkan tiga kendaraan itu terjadi.

Kami melihat dua minibus terbakar, sementara satu unit bus PO Primajasa jurusan Tasik-Jakarta rusak berat.

Sopir dan kernet bus selamat, sementara 12 penumpang di salah satu minibus yang terbakar tidak berhasil keluar dari mobil. Seluruhnya tewas dalam peristiwa pilu yang terjadi dua hari jelang Idul Fitri itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyimpulkan salah satu faktor penyebab peristiwa kecelakaan di KM 58 Tol Cikampek itu disebabkan oleh pengemudi kelelahan.

"Pengemudi kendaraan travel tidak resmi bekerja melebihi waktu," kata ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam keterangan tertulis 11 April 2024.

Mengemudi saat badan dalam kondisi lelah adalah tindakan konyol yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Karena itu para pemudik jarak jauh diimbau paham soal batasan tubuh melawan kelelahan. 

Pasal 90 UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas & Angkutan Jalan menyebutkan bahwa waktu kerja maksimal mengemudi adalah 8 jam sehari meski dalam hal tertentu dapat diperpanjang sampai 12 jam.

Pasal itu juga mengatur durasi istirahat yang ideal.

"Pengemudi kendaraan bermotor umum wajib istirahat selama setengah jam setelah berkendara selama 4 jam berturut-turut," bunyi pasal 90 ayat 3 Undang-Undang LLAJ.

Pada praktiknya, mengemudi kurang dari empat jam pun bisa sangat melelahkan jika kondisi macet seperti pada masa arus mudik lebaran.

Den Dimas yang dikenal di media sosial sebagai influencer otomotif Buburayamracer menyarankan pemudik yang lelah segera beristirahat untuk menghindari micro-sleep.

"Kalau aku sendiri sebenarnya 2 jam kalau bisa udah istirahat apalagi kalau macet di dalam mobil itu 2 jam aja udah kerasa capeknya," ujar Dimas yang ditemui CNN Indonesia di Rest Area KM 57 Tol Cikampek, Selasa (25/3).

"Karena pengalaman pribadi micro sleep itu badan udah bener-bener berasa nahan (kantuk) tapi tiba-tiba ketiduran sendiri beberapa detik dan mobil langsung oleng," kata Dimas.

Waspada tanda tubuh

Mengantuk adalah alarm tubuh pertama yang mesti segera disadari saat mengemudi. Gejala lainnya yang umum terjadi adalah badan pegal-pegal dan otak sulit berkonsentrasi hingga reaksi melambat terhadap situasi di jalan.

Jika alarm-alarm itu diabaikan maka risiko kecelakaan semakin besar.

Dr Sri Hindarjo, salah satu penanggung jawab medis yang bertugas di Rest Area KM 57 Tol Cikampek pada masa mudik lebaran tahun ini menyebut bahwa riwayat tidur sebelum mengemudi menjadi salah satu faktor krusial.

Semakin singkat durasi tidur semakin lambat pula respon tubuh terhadap rangsangan. Hal itu ia buktikan dalam Fatigue Test atau uji kelelahan yang ia gelar selama masa mudik lebaran.

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merespon perintah di komputer, jika responnya lambat berarti dia kelelahan dan butuh istirahat," ujar Dr Hindarjo saat menjelaskan pada CNN Indonesia mengenai cara kerja Fatigue Test.

Dalam tes yang berlangsung satu menit itu kita hanya diminta menekan tombol spasi pada laptop setiap kali melihat gambar papan catur.

Secara acak gambar akan hilang dan muncul tanpa ada pola yang pasti. Sekilas tampak mudah, tapi tes itu akan sulit bagi mereka yang sedang lelah. Setelah selesai, hasil tes akan keluar dengan sejumlah parameter diantaranya mengantuk, fit atau butuh istirahat.

Data Korlantas Polri mencatat ada lebih dari 1800 kasus kecelakaan lalu lintas pada masa mudik lebaran tahun 2024 lalu. Angka itu sejatinya dapat diminimalisasi jika setiap individu pemudik memilki kesadaran untuk mengenali alarm tubuh dan bijak saat berkendara.

(vws)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International