Tak Gentar, Iran Acam Balik Bakal Hancurkan Infrastruktur AS di Teluk

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman keras, mereka siap menghantam infrastruktur vital milik Amerika Serikat di kawasan Teluk jika Washington benar-benar menyerang jaringan listriknya.

Peringatan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka penuh Selat Hormuz. Jika tidak dipatuhi, AS mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran.

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan serangan menyasar fasilitas energi, teknologi informasi, hingga instalasi desalinasi air milik AS dan sekutunya di kawasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua infrastruktur energi dan fasilitas air akan menjadi target," ujarnya seperti dikutip media pemerintah Iran, melansir AFP.

Ancaman ini bukan sekadar retorika. Kawasan Teluk sangat bergantung pada listrik untuk menopang kehidupan sehari-hari, terutama dalam memproduksi air bersih melalui teknologi desalinasi.

Negara seperti Bahrain dan Qatar bahkan mengandalkan 100 persen air minumnya dari proses tersebut. Sementara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memenuhi sebagian besar kebutuhan airnya melalui fasilitas serupa.

Artinya, serangan terhadap infrastruktur listrik berpotensi memicu krisis kemanusiaan besar-besaran di kawasan gurun tersebut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan memperingatkan bahwa fasilitas energi di Timur Tengah bisa "hancur secara permanen" jika konflik terus meningkat.

Selat Hormuz jadi taruhan

Tak hanya itu, Garda Revolusi Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Mereka menegaskan, jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sampai pembangkit listrik Iran yang rusak dibangun ulang.

Meski Iran mengklaim selat masih terbuka untuk kapal tertentu dengan koordinasi keamanan, data pelacakan menunjukkan sebagian besar kapal memilih menahan diri dan tidak melintas.

Dampaknya langsung terasa. Harga minyak global bergejolak, sementara harga gas di Eropa melonjak tajam hingga 35 persen dalam sepekan terakhir.

Serangan berbalas tak terhindarkan

Di tengah ancaman tersebut, konflik bersenjata terus berlangsung. Sirene serangan udara kembali berbunyi di sejumlah wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, menyusul peluncuran rudal dari Iran.

Militer Israel sebelumnya mengklaim telah menyerang sejumlah target di Teheran, termasuk basis militer dan fasilitas produksi senjata.

Meski serangan udara intensif AS dan Israel disebut telah melemahkan kemampuan militer Iran, Teheran tetap menunjukkan kapasitasnya untuk membalas. Bahkan, Iran dilaporkan telah meluncurkan rudal balistik jarak jauh sejauh 4.000 kilometer ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Samudra Hindia.

Di sisi lain, Israel memperkirakan konflik ini belum akan mereda dalam waktu dekat. Juru bicara militer Israel menyebut pertempuran melawan Iran dan kelompok Hizbullah masih akan berlangsung "berminggu-minggu ke depan".

Ancaman saling serang terhadap infrastruktur sipil kini menjadi kekhawatiran terbesar. Analis pasar menyebut ultimatum AS telah menciptakan "bom waktu ketidakpastian" bagi ekonomi global.

Perang yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang sejak akhir Februari itu tidak hanya mengguncang stabilitas kawasan, tetapi juga memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi global.

Di tengah situasi ini, satu hal menjadi jelas: Iran menunjukkan sikap tak gentar. Ancaman balasan bukan lagi kemungkinan-melainkan skenario yang kian mendekati kenyataan.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International