Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) menyatakan Kuba tidak diizinkan untuk menerima pengiriman minyak mentah dari Rusia meskipun sedang mengalami krisis energi.
Kuba tidak diperbolehkan menerima pasokan minyak dari Rusia, meskipun terdapat dua kapal tanker yang membawa minyak dan gas dari Rusia yang siap dikirim ke negara tersebut.
Dalam lisensi umum yang diterbitkan pada Kamis (19/3) yang dilaporkan CNBC, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS menambahkan Kuba ke dalam daftar negara yang dilarang terlibat dalam penjualan, pengiriman, atau pembongkaran minyak mentah atau produk minyak bumi yang berasal dari Rusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, AS sempat memperbolehkan untuk sementara pembelian minyak Rusia yang tertahan di laut pada pekan lalu.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar energi di tengah perang antara AS dan Israel melawan Iran.
Kebijakan sementara ini menangguhkan sanksi yang sebelumnya dijatuhkan kepada Moskow setelah invasi besar-besaran ke Ukraina.
Adapun pelarangan kepada Kuba muncul setelah perusahaan penyedia intelijen maritim melacak dua kapal tanker pengangkut minyak dan gas Rusia sedang menuju Kuba.
Menurut perusahaan intelijen maritim, Windward, salah satu kapal yang sedang menuju Kuba adalah tanker Sea Horse.
Kapal berbendera Hong Kong tersebut diperkirakan membawa sekitar 190 ribu barel gasoil Rusia.
Pelacakan menunjukkan kapal itu bersiap mengirimkan muatannya dalam beberapa hari mendatang.
Analisis Windward juga menemukan bahwa kapal tanker tersebut terlibat dalam penipuan praktik pelayaran.
Kapal tanker itu disebut mematikan transponder lokasi selama transfer minyak.
Kapal tanker itu juga tidak memiliki asuransi Barat, yang mana menurut Windward menjadi indikasi adanya potensi pelanggaran sanksi.
Kapal kedua adalah tanker minyak berbendera Rusia yang terkena sanksi, yaitu Anatoly Kolodkin.
Berdasarkan laporan AFP, firma analitik maritim, Kpler, memperkirakan kapal itu sedang dalam perjalanan ke Kuba dengan membawa 730 ribu barel minyak mentah.
Pengiriman ini merupakan bentuk perlawanan terhadap AS, mengingat Washington telah mengancam akan menjatuhkan tarif pada negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba.
Kuba sendiri sebelumnya sangat bergantung pada minyak dari Venezuela, tetapi jalur tersebut terputus sejak awal Januari ketika AS meluncurkan operasi militer saat menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Krisis energi di Kuba telah memicu pemadaman listrik secara nasional pada Sabtu (21/3) malam. Kondisi ini diumumkan langsung oleh Kementerian Energi Kuba.
Dalam waktu kurang dari sepekan, Kuba kembali mengalami kolaps jaringan listrik nasional.
Perusahaan listrik negara, Union Electrica, menyatakan pemulihan sistem listrik nasional masih berlangsung.
Warga terdampak mengaku frustrasi dengan pemadaman berulang yang mempersulit kehidupan akibat keterbatasan energi.
Sebelumnya, pemadaman listrik nasional juga terjadi pada Senin (16/3) akibat pemblokiran pasokan bahan bakar oleh Amerika Serikat.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google
















































