CNN Indonesia
Rabu, 07 Jan 2026 00:30 WIB
Ilustrasi. Kesehatan gigi dan mulut bersinggungan dengan penyakit Alzheimer. (iStock/Sewcream)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kesehatan gigi dan mulut ternyata berpotensi memengaruhi kesehatan otak, termasuk risiko penyakit Alzheimer. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan masalah mulut, seperti penyakit gusi dan kehilangan gigi, berkaitan dengan peradangan sistemik hingga gangguan fungsi kognitif.
Melansir berbagai sumber, Alzheimer sendiri merupakan bentuk demensia paling umum. Penyakit ini ditandai dengan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, serta perubahan perilaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alzheimer bersifat progresif dan hingga kini belum dapat disembuhkan. Karena itu, upaya pencegahan melalui penerapan gaya hidup sehat menjadi hal yang sangat penting.
Hubungan alzheimer dengan kesehatan mulut
Penderita Alzheimer dan demensia kerap mengalami kesulitan menjaga kesehatan mulut akibat keterbatasan fisik dan mental. Kondisi ini dapat memperburuk kesehatan gigi dan gusi.
Kesehatan mulut yang buruk juga bisa menyebabkan kesulitan mengunyah dan menelan. Akibatnya, penderita Alzheimer dan demensia menjadi sulit makan dan berisiko tidak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai.
Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang dilakukan peneliti asal Korea Selatan. Melansir EatingWell, para peneliti melakukan tinjauan terhadap 45 studi sebelumnya yang membahas kaitan antara kesehatan gigi dan penyakit Alzheimer.
Dari tinjauan tersebut, penelitian mencakup berbagai aspek, antara lain:
• Penyakit Alzheimer dan kesehatan mulut
• Penyakit periodontal dan Alzheimer
• Peradangan dan penyakit Alzheimer
• Penumpukan plak amiloid-beta di otak, yang menjadi ciri khas Alzheimer
• Kerentanan genetik terhadap periodontitis, genotipe APOE4, dan Alzheimer
• Gigi berlubang dan penyakit Alzheimer
• Kehilangan gigi, penggunaan gigi palsu, dan penyakit Alzheimer
Hasil analisis menunjukkan penyakit mulut kronis, terutama periodontitis dan kehilangan gigi, berpotensi meningkatkan risiko munculnya penyakit Alzheimer.
Periodontitis merupakan infeksi serius pada jaringan penyangga gigi, termasuk gusi dan tulang rahang. Kondisi ini dapat memicu peradangan berkepanjangan yang berdampak sistemik.
Para peneliti mengajukan sejumlah mekanisme yang diduga menjelaskan kaitan tersebut. Salah satunya adalah peradangan sistemik yang berasal dari rongga mulut dan menyebar ke seluruh tubuh.
Selain itu, bakteri dari mulut diduga dapat masuk ke aliran darah, menembus sawar darah-otak, dan memicu respons peradangan di otak.
Faktor genetik juga dinilai berperan. Individu dengan kerentanan genetik tertentu, seperti pembawa gen APOE4, disebut lebih rentan mengalami dampak negatif dari penyakit periodontal.
Sementara itu, kehilangan gigi tanpa penggunaan gigi palsu dapat menurunkan kemampuan mengunyah dan memengaruhi asupan nutrisi. Kondisi ini pada akhirnya turut berdampak pada fungsi otak.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kajian ini memiliki keterbatasan. Perbedaan metode penelitian, cara diagnosis penyakit mulut, serta faktor lain seperti kondisi sosial ekonomi dan gaya hidup belum sepenuhnya dikendalikan dalam seluruh studi yang dianalisis.
Mengapa kesehatan mulut penting bagi otak?
Di dalam mulut manusia hidup ratusan jenis mikroorganisme. Sebagian bersifat menguntungkan, namun sebagian lain dapat memicu penyakit jika tidak dikendalikan dengan baik.
Ketika kebersihan mulut buruk, bakteri berbahaya dapat berkembang dan memicu peradangan kronis. Dampaknya tidak hanya merusak gusi dan gigi, tetapi juga berpotensi memengaruhi organ lain, termasuk otak.
Meski efektif membunuh bakteri jahat, penggunaan obat kumur berbahan alkohol juga perlu diperhatikan. Kandungan alkohol dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma mulut, yang berpotensi berdampak pada kesehatan usus.
Padahal, kesehatan usus kini semakin banyak dikaitkan dengan fungsi otak dan suasana hati.
Sejumlah bukti menunjukkan pola makan kaya sayur, buah, kacang-kacangan, minyak zaitun, ikan, serta rendah daging merah dapat membantu menekan peradangan, termasuk di jaringan gusi. Pola makan ini juga telah lama dikaitkan dengan penurunan risiko demensia dan Alzheimer.
(nga/tis)

















































