Jakarta, CNN Indonesia --
Pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT) bernama Ermanto Usman (65) tewas dalam dugaan perampokan di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/3).
Dalam peristiwa tersebut, istri Ermanto, P (60) juga turut menjadi korban dan saat ini masih menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Sosok Ermanto mungkin tak asing bagi sebagian orang. Ia diketahui juga merupakan Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan JICT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ermanto juga dikenal sebagai salah satu sosok yang mengungkap soal dugaan korupsi terkait pengelolaan di pelabuhan. Ermanto pun pernah tampil dalam podcast di akun YouTube Forum Keadilan TV pada 15 Desember 2025 dengan judul 'PELINDO BONEKA PT.HUTCHINSON (HONGKONG)... ADA PEMERINTAH DI ATAS PEMERINTAH...!!!".
Dalam podcast itu, Ermanto membeberkan soal kerja sama antara Pelindo dengan Hutchinson Port Holdings (Hong Kong) yang diduga merugikan negara.
Diketahui, pada Oktober 2015 DPR bahkan membuat panitia khusus (pansus) hak angket untuk membahas masalah yang disorot Ermanto tersebut. Kata dia, pansus itu terbentuk atas dorongan yang dilakukan serikat pekerja JICT.
Ermanto menyebut dalam prosesnya, pansus juga meminta BPK RI untuk melakukan audit. Dari audit tersebut, BPK menemukan kontrak baru antara PT Pelindo II dengan Hutchison Port Holding terindikasi merugikan keuangan negara sebesar US$360 juta atau sekitar Rp4,08 triliun
Disampaikan Ermanto, setidaknya ada tujuh rekomendasi yang dihasilkan oleh pansus, salah satunya adalah pembatalan kerja sama. Namun, hal itu tidak pernah dilakukan.
Di akhir Podcast itu, Ermanto pun menyampaikan tiga permintaan terkait kasus tersebut.
"Saya ada tiga permintaan. Satu memang pemerintah ini termasuk lantai pasok kita, ini kepentingan pemerintah, Pelindo ini harus direformasi," kata Ermanto dalam podcast.
"Kedua saya berharap, ya memang harus dilakukan audit investigasi, audit menyeluruh, baik itu keuangan dan kinerja, termasuk audit terhadap evaluasi terhadap perjanjian kerja sama antara Pelindo dengan pihak ketiga. Terus yang ketiga saya minta, ya usut kasus korupsi siapapun yang terlibat," sambungnya.
Bukan perampokan, tapi pembunuhan
Anggota DPR dari Fraksi PDIP yang juga rekan Ermanto, Rieke Diah Pitaloka menilai kematian sahabatnya itu bukan peristiwa yang bisa dianggap perampokan ataupun pembunuhan biasa.
"Saya melihat ada indikasi kuat ini bukan sekadar pembunuhan, melainkan bentuk pembungkaman terhadap seseorang yang bersuara soal dugaan korupsi di sektor pelabuhan," kata Rieke lewat akun Instagram pribadinya.
Rieke menyebut Ermanto konsisten menyampaikan kasus perpanjangan kontrak JICT. Ia berbicara karena hati nurani, bukan karena kepentingan.
"Orang bisa saja dibungkam, tetapi kebenaran tidak boleh ikut dikubur," ujarnya.
"Saya meminta aparat penegak hukum @kepolisian_ri @official.kpk mengusut tuntas hingga ke akar. Jangan berhenti pada pelaku lapangan. Jika ada dalang di balik ini, mereka harus dimintai pertanggungjawaban," kata Rieke menambahkan.
Ermanto Usman dan istrinya diserang oleh perampok di rumahnya yang terletak di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat pada Senin (2/3).
Peristiwa itu baru diketahui sang anak saat menjelang sahur. Saat itu, anak korban merasa curiga lantaran kedua orang tuanya tidak membangunkan sahur hingga pukul 04.00 WIB.
"Ketika dia bangun dia kaget, wah ini kan bentar lagi imsak, akhirnya dia turun. Ketika turun dia lihat kok enggak ada jawaban, lampu masih mati," kata Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal kepada wartawan, Senin (2/3).
Andi mengatakan anak korban ketika itu masih sempat mendengar suara ibunya. Namun saat dihampiri, gagang pintunya sudah rusak dan tidak bisa dibuka.
Singkat cerita, sang ayah sudah dalam keadaan meninggal bersimbah darah. Sementara ibunya mengalami luka berat dan langsung mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Dari penyelidikan sementara, tercatat ada sejumlah barang yang raib akibat insiden penyerangan tersebut. Yakni gelang emas yang di tangan korban serta dua kunci mobil.
(fra/dis/fra)


















































