Simpang Siur Jumlah Korban Tewas di Demo Iran

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah korban tewas dalam demo di Iran hingga kini belum bisa diverifikasi secara resmi oleh pemerintah di Teheran. Iran masih mengalami pembatasan internet sehingga media-media resmi tak bisa diakses.

Laporan korban tewas dan luka saat ini cuma disampaikan dari pihak kelompok hak asasi manusia (HAM). Salah satunya yakni HRANA, kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan catatan HRANA, jumlah orang yang meninggal dunia dalam demo Iran mencapai 2.615 jiwa per Rabu (14/1). Sebanyak 13 orang di antaranya berusia di bawah 18 tahun dan 14 orang merupakan warga sipil non-demonstran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, sebanyak 153 korban tewas juga merupakan anggota pasukan keamanan dan pedemo pro-pemerintah. HRANA masih menyelidiki 882 korban tewas lain dalam catatan ini.

Selain itu, kelompok HAM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia juga mencatat korban tewas dalam demo Iran. IHR melaporkan 3.428 orang meninggal dunia per Rabu.

IHR mengeklaim memperoleh informasi dari sumber-sumber di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Islam Iran serta dari dokumentasi rumah sakit dan kamar jenazah. Menurut sumber-sumber tersebut, pada 8-12 Januari saja, sebanyak 3.379 demonstran tewas.

Agen intelijen Israel serta media internasional juga turut memberikan laporan kematian. Namun, jumlahnya sangat beragam, bahkan lebih tinggi dari catatan kelompok-kelompok HAM.

Menurut intelijen Israel, yang punya banyak agen lapangan di Iran, ada 5.000 orang yang tewas dalam unjuk rasa. Iran International, selaku media tentang Iran yang berbasis di Inggris, mencatat korban tewas tembus lebih dari 12.000 jiwa.

CBS News juga melaporkan, dengan klaim bersumber dari dua informan di Iran. Media bermarkas di New York City itu menyebut sekitar 20.000 orang tewas dalam demonstrasi.

Sangat sulit untuk memverifikasi laporan korban tewas di demo Iran saat ini. Kendati demikian, pada Rabu (14/1), Presiden AS Donald Trump mengaku menerima informasi bahwa kekerasan di Iran sudah mulai mereda.

Unjuk rasa meletus di Iran sejak 28 Desember lalu. Demo yang mulanya dipicu masalah ekonomi itu meluas dan berubah menjadi desakan perubahan rezim Ayatollah Ali Khamenei.

Iran mengeklaim AS dan Israel menyusupi dan memanas-manasi demo. Kedua negara sejak awal menyatakan dukungan bagi rakyat Iran dan mendorong masyarakat menggulingkan Khamenei.

Iran telah mengancam akan meluncurkan serangan antisipasi jika AS-Israel ikut campur. Trump sementara itu dikabarkan telah menyusun rencana intervensi, termasuk menyerang Iran.

Sejumlah pasukan AS di pangkalan-pangkalan militer Timur Tengah saat ini dilaporkan mulai ditarik. Iran juga sempat menutup wilayah udaranya untuk sebagian besar penerbangan, namun kini wilayah udara Iran telah berangsur dibuka kembali. 

(blq/dna)

Read Entire Article
Korea International