Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di kisaran 5 persen setelah pandemi Covid-19.
Menurut dia, stabilitas tersebut sulit ditemukan di negara lain, termasuk negara-negara tetangga Indonesia.
"Kita dengan beberapa negara lain, termasuk negara-negara peer kita, kita jauh lebih bagus secara fundamental. Jadi pertumbuhan kita kalau kita lihat setelah covid itu stable above 5 persen," kata Juda dalam acara Indonesia Economic Forum 2026 yang digelar CNN Indonesia di Auditorium Bank Mega, Jakarta, Senin (2/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak ada negara yang begitu stabilnya. Thailand nyungsep, Filipina juga pernah tumbuh tinggi (lalu) turun lagi. Kita stabil 5 persen," jelasnya.
Selain itu, indikator eksternal seperti neraca pembayaran dan neraca perdagangan dinilai dalam kondisi solid.
Juda mengingatkan pada periode 2013-2015 Indonesia sempat masuk kategori fragile five. Pada 2013, Morgan Stanley pernah menciptakan istilah fragile five bagi lima negara berkembang, yang satu di antaranya adalah Indonesia. Negara yang masuk ke sini adalah mereka yang dianggap memiliki perekonomian yang rapuh.
Namun, kata Juda, berbagai parameter fundamental yang disoroti dalam fragile five kini sudah mampu diperkuat oleh Indonesia.
"Jadi, saya melihat kalau cross section itu kita jauh lebih baik dari yang negara lain. Nah confidence market juga sebenarnya terjaga," ujar Juda.
Ia mencontohkan, meskipun lembaga pemeringkat internasional Moody's sempat menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, pemerintah tetap mampu menerbitkan obligasi dengan imbal hasil yang kompetitif. Hal itu mencerminkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional masih terjaga.
"Jadi poin saya adalah kita tetap harus optimis tapi tentu saja waspada di hadapan kita," ucap Juda.
(dhz/pta)


















































