KULTUM KEMULIAAN RAMADAN
CNN Indonesia
Sabtu, 07 Mar 2026 04:00 WIB
Ilustrasi. Orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin akan mencapai kebahagiaan, karena ia bisa mengendalikan hawa nafsu yang destruktif. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada satu hal yang menjadi fondasi yang menentukan kebahagiaan seseorang, yaitu akal. Hal ini sesuai dengan ungkapan yang dikutip Syekh Nawawi al-Bantani, "Sungguh berbahagia orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin."
Akal itu selalu ada pada manusia, tetapi tak semua akal sempurna dan sehat. Jika seseorang membiarkan hawa nafsunya yang memimpin, celaka bisa datang kepadanya.
"Dua ungkapan ini sungguh sesuatu yang memberi pandangan pada kita. Kalau ada orang yang akalnya menjadi pemimpin, hawa nafsunya itu menjadi tawanan. Artinya dia kendalikan keinginannya untuk tidak sesuai dengan petunjuk atau ajaran Allah. Itu orang yang bahagia," ujar Ma'ruf Amin, ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akal sehatlah yang akan membimbing kita agar tidak terjerumus ke dalam hawa nafsu. Hawa nafsu sendiri merupakan kecenderungan diri untuk mengikuti keinginan yang tidak sesuai dengan panggilan agama.
Orang yang membiarkan hawa nafsunya menjadi pemimpin dan akalnya menjadi tawanan, akan mengalami kerugian besar karena tidak mampu memikirkan hal-hal baik dan benar.
Mengutip Ibnu Atha'illah as-Sakandari, Ma'ruf mengatakan hawa nafsu yang sudah bersemayam manis di hati adalah penyakit yang sulit disembuhkan.
Oleh karena itu, mengendalikan hawa nafsu atau jihadun nafsi adalah jihad besar (jihadul akbar) yang lebih berat daripada perang fisik.
"Jihadun nafsi oleh Rasulullah disebut sebagai jihad akbar. Perang besar dibandingkan dengan perang fisik. Karena dia [manusia] akan berjuang secara terus-menerus, dan juga akan mengalaminya, sehingga perlu perjuangan yang tidak ada henti-hentinya," tutur Ma'ruf.
Selain berjuang melawan hawa nafsu dengan puasa, ibadah, dan senantiasa memohon kepada Allah SWT, kita juga harus meminta bantuan kepada sesama manusia.
Siapa yang bisa membantu kita? Setidaknya seorang guru yang bisa menjadi pembimbing dan seorang saudara atau teman yang jujur.
Terlebih jika kita belajar pada guru yang 'waskito' atau yang memiliki pandangan jauh ke depan, kita bisa makin memiliki pencerahan.
"Bahkan juga perilaku beliau saja sudah bisa memberikan pengaruh kepada kita untuk menghentikan segala penyimpangan itu. Bisa meluruskan yang bengkok-bengkok itu," Ma'ruf menjelaskan.
Adapun salah satu penyakit hawa nafsu yang paling sulit disembuhkan, yakni ambisi menjadi pemimpin. Ambisi ini bahkan menjadi hal terakhir yang keluar dari hati orang yang beriman sejati.
Fenomena perebutan kekuasaan dan konflik di berbagai tingkatan, baik lokal maupun global, menunjukkan betapa kuat dan sulitnya mengatasi nafsu ini.
"Mudah-mudahan puasa yang kita lakukan itu bisa memberikan pengaruh kepada kita, bisa mengendalikan hal-hal yang dapat membuat kita berbuat sesuatu yang tidak diridai oleh Allah SWT," ucap Ma'ruf menutup kultum.
(rti)


















































