Surabaya, CNN Indonesia --
KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, menyatakan kesiapannya untuk maju dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada muktamar ke-35 mendatang.
Langkah ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur (Jatim) tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral melihat kondisi internal organisasi yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gus Salam menegaskan niatnya bukan untuk mengejar jabatan, melainkan sebuah ikhtiar pengabdian atau khidmah untuk memperbaiki keadaan organsasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
"Kami memang punya keinginan untuk atau sedang melakukan ikhtiar untuk mendapatkan kepercayaan dalam pengabdian di NU pada muktamar yang akan datang," kata Gus Salam ditemui di Surabaya, Jatim, Selasa (28/4).
"Mohon maaf mungkin saya memang sedikit menghindari kata-kata kandidat atau mencalonkan karena kami menganggap di NU ini sifatnya pengabdian atau dalam bahasa kita khidmah," sambungnya.
Gus Salam yang sempat menginisiasi Muktamar Luar Biasa (MLB) NU melalui Forum Penyelamat Organisasi dan Panitia MLB (PO & MLB) NU ini mengklaim situasi di tubuh ormas Islam tersebut saat ini memerlukan perhatian serius dari para fungsionaris.
Ia menyoroti akumulasi berbagai permasalahan, mulai dari isu negatif hingga konflik internal yang ia sebut sebagai 'islah semu'.
Menurutnya, banyak kebijakan organisasi belakangan ini yang sulit diterima secara etika organisasi, seperti persoalan administrasi surat keputusan (SK) hingga pemecatan pengurus di berbagai tingkatan.
"Hari ini situasi NU itu dalam kondisi yang benar-benar perlu untuk ada perhatian dari kami sebagai fungsionaris. Mulai dari isu-isu yang negatif sampai pada puncaknya konflik yang terjadi yang sampai hari ini belum bisa tuntas dengan sejati atau dengan sesungguhnya. Karena masih sebagian orang mengatakan masih islah semu, masih perdamaian yang semu bukan yang hakiki," ucapnya.
Klaim dukungan
Terkait dukungan, Gus Salam mengklaim telah mengantongi restu dari sejumlah masyayikh dan kiai sepuh di berbagai wilayah mulai dari Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Kalimantan Selatan.
Dia mengaku telah sowan ke nama-nama besar NU untuk meminta doa restu dalam ikhtiar tersebut. Beberapa di antaranya KH Nurul Huda Djazuli Pondok Pesantee Ploso Kediri, KH Anwar Mansur Pondok Pesantren Lirboyo, hingga KH Ma'ruf Amin dan KH Said Aqil Siradj.
Untuk mewujudkan rekonsiliasi total itu, Gus Salam mengaku sudah melakukan langkah menyatukan kembali berbagai faksi di tubuh NU yang selama ini terlibat konflik. Hal ini ia awali dengan menjalin komunikasi terbuka kepada semua pihak tanpa memandang latar belakang posisi mereka dalam perselisihan yang ada.
"Kami menginginkan adanya manajemen PBNU yang lebih rekonsiliatif, lebih tenang, lebih nyaman, bagaimana pengabdian kita ini benar-benar dilandasi dengan niat yang baik, tulus, jauh dari interest-interest [kepentingan] pribadi, dan lebih mengedepankan kepentingan organisasi dan umat," ucapnya.
Temui Gus Yahya dan Gus Ipul
Gus Salam bahkan mengklaim telah menemui Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat momentum Lebaran lalu. Dia juga mengklaim telah mendatangi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Yogyakarta untuk menyampaikan secara langsung niatnya berikhtiar di muktamar sebagai fondasi awal membangun kebersamaan.
"Saya juga sudah menyampaikan secara terbuka kepada Gus Ipul. Ketika beliau hari raya ke tempat kami, saya sampaikan dengan terbuka bahwa saya akan ikhtiar menuju khidmah di Muktamar," ujarnya.
"Kami juga menemui Gus Yahya. Kebetulan pada waktu Gus Yahya ke tempat kami kami sedang ada agenda di luar. Akhirnya saya bisa ketemu beliau di Jogja. Sama-sama ada acara di Jogja terus saya menemui beliau. Saya juga sampaikan terbuka pada beliau bahwa saya akan melakukan ikhtiar untuk proses muktamar ini," tambah Gus Ipul.
Gus Salam yang juga cucu salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri ini, berharap Muktamar sebagai forum tertinggi NU nantinya dapat diselenggarakan di lingkungan pesantren demi menjaga kesakralan organisasi dan meminimalisasi potensi risiko politik uang.
"Kami mendukung sekali pelaksanaan muktamar NU di pesantren. Kenapa? Karena kalaupun enggak bisa menghapus riswah atau politik uang, ya meminimalisir. Salah satunya adalah ketika muktamar dilaksanakan di pesantren. Sak nemen-nemen wong NU iku sek ono wedi kualate (seberapa parahnya orang NU, itu masih ada rasa takut kualat)," ujarnya.
Sebelumnya, setelah gonjang-ganjing di kepengurusan PBNU jelang akhir tahun lalu yang berujung rukun lagi, muktamar atau musyawarah besar ormas Islam terbesar di Indonesia itu akan digelar Agustus mendatang.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengaku berharap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU digelar 1-5 Agustus 2026. Adapun lokasinya, kata dia, masih dibahas.
"Pelaksanaan Muktamar NU pada awal Agustus tanggal 1-5 Agustus itu sudah siklus Muktamar, karena Muktamar sebelumnya di Jombang juga Agustus," katanya saat menutup Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim di Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, Minggu (12/4) dikutip dari laman NUOnline Jatim.
Belakangan terkonfirmasi bahwa PBNU tengah mematangkan persiapan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Sekretaris Jendral PBNU Saifullah Yusuf atau yang kerap disapa Gus Ipul di Bandarlampung, Minggu (26/4), mengatakan panitia kecil untuk Muktamar NU saat ini sudah dibentuk. Mereka, katanya, merampungkan berbagai kebutuhan teknis penyelenggaraan kegiatan.
"Persiapan terus berjalan. Panitia kecil sudah dibentuk dan sedang menuntaskan susunan kepanitiaan yang diperlukan untuk pelaksanaan Muktamar," ujar Gus Ipul yang juga Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU kelak.
(frd/kid)
Add
as a preferred source on Google


















































