Tips Jitu Kantong Tetap Aman usai Lebaran

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Momentum Lebaran kerap identik dengan lonjakan pengeluaran, mulai dari biaya mudik, belanja kebutuhan hari raya, hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keluarga dan kerabat.

Tak jarang, pengeluaran juga melebar ke kebutuhan sosial seperti oleh-oleh, acara kumpul keluarga, hingga traktiran selama di kampung halaman.

Tanpa perencanaan dan pengendalian yang tepat, kondisi ini bisa membuat keuangan menjadi "seret" setelah libur panjang usai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, anggaran kebutuhan rutin bisa terganggu di bulan berikutnya.

Lantas, apa saja langkah yang perlu dilakukan agar kondisi finansial tetap sehat?

1. Evaluasi Pengeluaran dan Kembalikan Pos Keuangan

Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid menilai kondisi pasca Lebaran tahun ini relatif tidak terlalu berat karena berdekatan dengan periode gajian. Namun demikian, langkah pertama yang tetap harus dilakukan adalah menata ulang keuangan.

Menurutnya, masyarakat perlu mengecek kembali pengeluaran selama Lebaran, termasuk apakah ada dana darurat atau tabungan yang terpakai. Jika iya, maka dana tersebut harus segera diisi kembali dari gaji berikutnya.

"Begitu gajian, langsung dialokasikan lagi untuk mengisi dana yang sempat terpakai, baik itu tabungan maupun dana darurat," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/3).

Aidil juga mengingatkan bahwa penggunaan utang selama Lebaran akan memperberat kondisi keuangan setelahnya. Oleh karena itu, penting untuk segera menyelesaikan kewajiban tersebut, baik dengan pelunasan langsung maupun cicilan dalam jangka pendek.

"Jangan menggunakan utang gitu ya, kartu kredit, dan sebagainya itu jangan dipakai. Karena kalau dipakai, nanti efeknya pada saat balik ke kota besar harus bayar cicilan tuh, harus bayar utang," kata Aidil.

2. Hindari Utang Konsumtif

Aidil menegaskan masyarakat sebaiknya tidak menggunakan paylater, kartu kredit, atau pinjaman online untuk kebutuhan Lebaran, terutama yang bersifat konsumtif seperti membeli oleh-oleh.

Menurutnya, THR sejatinya memang diperuntukkan untuk kebutuhan hari raya, seperti transportasi mudik, berbagi dengan keluarga, hingga membeli kebutuhan Lebaran. Karena itu, penggunaan utang untuk menutup kebutuhan tersebut justru tidak tepat.

"Tidak boleh (pakai pinjaman online) kalau dari saya sih. Lebaran pake pinjaman online itu kan sama aja Memaksakan lebaran di kampung halaman padahal dia gak mampu kan," tegasnya

Ia juga menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam mengatur pengeluaran, misalnya dengan menentukan prioritas dalam memberi oleh-oleh atau amplop kepada keluarga.

Selain itu, penting untuk tidak terjebak gengsi atau tekanan sosial selama di kampung halaman yang bisa memicu pengeluaran berlebihan.

3. Lakukan Financial Check-Up dan Atur Prioritas

Sementara itu, Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo menyarankan masyarakat melakukan "financial check-up" setelah Lebaran.

Langkah ini meliputi pengecekan sisa kas dari THR dan bonus, total utang (termasuk paylater dan kartu kredit), serta memastikan tidak ada kewajiban pembayaran yang terlewat.

"Langkah pertama adalah "financial check-up" dengan cek sisa kas dari THR dan bonus, total utang terutama apabila ada utang paylater dan kartu kredit, dan tanggal kewajiban yang jatuh tempo berikutnya jangan sampai terlewat karena kas sudah habis untuk pengeluaran hari raya sedangkan tanggal gajian berikutnya masih panjang," ujar Budi kepada CNN Indonesia.com, Selasa (17/3).

Ia juga mengingatkan pentingnya merapikan prioritas pengeluaran dengan mendahulukan kebutuhan wajib dan cicilan, serta menunda pengeluaran konsumtif.

4. Fase Pemulihan dan Kembali Menabung

Budi menambahkan, setelah pengeluaran besar, masyarakat perlu masuk ke fase "recovery mode" atau pemulihan keuangan dengan cara berhemat hingga kondisi kembali stabil.

Prioritas utama adalah mengisi kembali dana darurat, melunasi utang, serta tetap menyisihkan minimal 10-20 persen penghasilan untuk tabungan.

Jika kondisi arus kas masih terbatas, ia menyarankan agar fokus utama diarahkan pada pelunasan utang terlebih dahulu sebelum kembali berinvestasi.

Dengan langkah yang disiplin dan terencana, kondisi keuangan pasca Lebaran tidak hanya bisa pulih, tetapi juga menjadi lebih sehat ke depannya.

"Dana darurat yang terpakai diisi kembali seperti sebelumnya, cicilan utang sudah dibayar dan amankan minimal 10-20 persen penghasilan untuk tabungan, meski kecil. Bisa juga gunakan metode budgeting sederhana (misalnya metode 50:30:20). Jika cashflow masih ketat dan tidak memungkinkan, fokus dulu menurunkan utang sebelum kemudian berlanjut ke menabung dan investasi," pungkas Budi.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Korea International