CNN Indonesia
Jumat, 27 Feb 2026 23:00 WIB
Ilustrasi. Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele ini ternyata bisa meningkatkan risiko munculnya infeksi saluran kemih (ISK). (iStockphoto/Demkat)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele ternyata bisa meningkatkan risiko munculnya infeksi saluran kemih (ISK). Mulai dari menahan buang air kecil hingga pilihan pakaian dalam.
Perempuan secara anatomi lebih rentan terhadap ISK karena memiliki uretra yang lebih pendek sehingga bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di luar faktor tersebut ada kebiasaan dan kondisi kesehatan tertentu yang dapat memperbesar peluang terjadinya ISK, yang umumnya ditandai dengan rasa perih saat buang air kecil, nyeri, serta keinginan kencing yang terus-menerus.
Melansir dari berbagai sumber, berikut merupakan sejumlah kebiasaan yang berpotensi memicu ISK.
1. Menahan buang air kecil
Mengutip Everyday Health, kebiasaan menunda buang air kecil saat sibuk bekerja atau bepergian dapat menyebabkan urine tertahan terlalu lama di kandung kemih. Kondisi ini membuat urine menjadi "terjebak" dan memberi kesempatan bakteri berkembang biak.
Profesor kebidanan dan kandungan, Jill Maura Rabin menjelaskan bahwa sisa urine yang tidak dikeluarkan sepenuhnya bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Mengosongkan kandung kemih secara tuntas membantu mengurangi risiko penumpukan bakteri yang dapat memicu peradangan atau infeksi.
2. Rutin bersepeda
Aktivitas bersepeda baik sebagai olahraga maupun sarana transportasi, ternyata juga dikaitkan dengan peningkatan risiko ISK pada perempuan. Sebuah studi menemukan bahwa perempuan yang rutin bersepeda lebih sering melaporkan riwayat ISK dibandingkan yang tidak.
Thomas Gaither, peneliti utama studi tersebut menyebut salah satu teori adalah tekanan pada area genital saat bersepeda yang dapat mempermudah kontaminasi bakteri ke uretra.
3. Konsumsi obat tertentu
Beberapa jenis obat seperti antihistamin, dekongestan, antipsikotik, dan obat antikolinergik dapat menyebabkan retensi urine atau kesulitan mengosongkan kandung kemih. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko ISK.
Meski demikian, Rabin menegaskan pasien tidak perlu menghentikan obat tanpa konsultasi medis. Meningkatkan asupan cairan dan memastikan kandung kemih benar-benar kosong setiap kali buang air kecil adalah yang terpenting.
4. Cara membersihkan yang keliru
Cara membasuh atau menyeka area genital setelah buang air besar juga berpengaruh. Menyeka dari belakang ke depan dapat memindahkan bakteri dari anus ke uretra.
Sebuah studi pada perempuan pramenopause yang rentan ISK, kebiasaan menyeka dari belakang ke depan meningkatkan risiko ISK hingga 64 persen. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri E. coli yang memang hidup di usus.
Oleh karena itu, menyeka dari depan ke belakang tetap menjadi prinsip dasar kebersihan untuk mencegah perpindahan bakteri.
5. Kurang air minum
Ditambahkan dari Science Alert, dehidrasi membuat urine lebih pekat yang membuat iritasi lapisan kandung kemih sehingga meningkatkan risiko infeksi.
Konsumsi air enam hingga delapan gelas atau sekitar 1,5-2 liter sehari. Namun, jika memiliki kegiatan dengan aktivitas tinggi disarankan lebih banyak.
6. Terlalu banyak kafein dan alkohol
Terlalu banyak mengonsumsi kafein dan alkohol dapat mengiritasi kandung kemih dan bertindak sebagai diuretik ringan yang meningkatkan produksi urine.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi lebih dari 450 mg atau sekitar empat cangkir kafein per hari dapat mengalami inkontinensia. Selain itu, penelitian lain menemukan bahwa pria yang mengonsumsi enam hingga sepuluh minuman beralkohol per minggu lebih mungkin mengalami gejala saluran kemih bagian bawah.
7. Pakaian dalam terlalu ketat
Penggunaan pakaian dalam ketat dapat memerangkap bakteri di area genital. Selain itu, tekanan pada jaringan sensitif dapat meningkatkan risiko infeksi vagina dan ISK.
Jarak antara uretra, vagina, dan anus hanya beberapa sentimeter. Pakaian dalam yang terlalu ketat juga dapat menciptakan kondisi hangat dan lembap, yang memudahkan bakteri berkembang.
ISK memang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan nyeri. Meski tidak semua faktor risiko bisa dikendalikan, sejumlah kebiasaan sederhana dapat membantu menurunkan risiko.
Mengosongkan kandung kemih secara tuntas, minum cukup air putih, menjaga kebersihan area genital dengan cara yang benar, serta memilih pakaian dalam yang nyaman dan tidak terlalu ketat merupakan langkah pencegahan yang dapat dilakukan sehari-hari.
Jika muncul gejala seperti rasa terbakar saat buang air kecil, nyeri di perut bagian bawah, atau dorongan berkemih yang terus-menerus, konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting. Penanganan dini dapat mencegah infeksi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
(nga/fef)


















































