Jakarta, CNN Indonesia --
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam serangan terhadap Iran dinilai para ahli sebagai penanda era baru peperangan supercepat bahkan melampaui "kecepatan pikiran" manusia.
Militer Amerika Serikat dilaporkan memanfaatkan model AI Claude milik Anthropic untuk mempercepat proses penentuan dan persetujuan target. Teknologi ini disebut mampu "memendekkan rantai pembunuhan", dari identifikasi sasaran hingga peluncuran serangan, sehingga peran pengambil keputusan manusia dikhawatirkan makin terpinggirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS dan Israel, yang sebelumnya menggunakan AI untuk mengidentifikasi target di Gaza, melancarkan hampir 900 serangan terhadap target di Iran dalam 12 jam pertama. Salah satu serangan rudal Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Para akademisi menyebut fenomena percepatan ini sebagai "kompresi keputusan" (decision compression), yakni penyusutan waktu yang dibutuhkan untuk merencanakan dan mengeksekusi serangan kompleks. Mereka khawatir hal itu dapat membuat pejabat militer dan penasihat hukum sekadar menandatangani rencana serangan yang dihasilkan sistem otomatis tanpa pertimbangan mendalam.
Pada 2024, Anthropic mulai menerapkan modelnya di Departemen Pertahanan AS dan sejumlah lembaga keamanan nasional untuk mempercepat perencanaan perang.
Claude menjadi bagian dari sistem yang dikembangkan oleh Palantir Technologies bersama Pentagon guna "secara dramatis meningkatkan analisis intelijen dan memfasilitasi proses pengambilan keputusan pejabat".
"Mesin kecerdasan buatan (AI) memberikan rekomendasi tentang target yang harus diserang, yang sebenarnya jauh lebih cepat dalam beberapa hal daripada kecepatan berpikir," kata Craig Jones, dosen senior geografi politik di Universitas Newcastle dan ahli rantai pembunuhan, mengutip The Guardian, Selasa (3/3).
"Jadi, Anda memiliki skala dan kecepatan, Anda melakukan serangan gaya pembunuhan sambil sekaligus melumpuhkan kemampuan rezim untuk merespons dengan semua rudal balistik udara. Hal itu mungkin membutuhkan hari atau minggu dalam perang-perang historis. [Sekarang] Anda melakukan semuanya sekaligus," lanjutnya.
Sistem AI terbaru mampu menganalisis data dalam jumlah besar secara cepat, mulai dari rekaman drone, penyadapan telekomunikasi, hingga intelijen manusia.
Sistem milik Palantir Technologies menggunakan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan target, merekomendasikan jenis senjata, memperhitungkan persediaan serta kinerja sebelumnya terhadap target serupa. Sistem ini juga memakai penalaran otomatis untuk mengevaluasi dasar hukum serangan.
"Ini adalah era baru dalam strategi militer dan teknologi militer," kata David Leslie, profesor etika, teknologi, dan masyarakat di Queen Mary University of London.
Leslie memperingatkan ketergantungan pada AI dapat memicu "cognitive off-loading", yakni ketika manusia yang mengambil keputusan merasa terlepas dari konsekuensinya karena proses berpikir telah didelegasikan kepada mesin.
Pada Sabtu, media pemerintah Iran melaporkan 165 orang, banyak di antaranya anak-anak, tewas dalam serangan rudal yang menghantam sebuah sekolah di selatan Iran.
Serangan itu disebut terjadi di dekat barak militer, dan PBB menyebutnya sebagai "pelanggaran serius terhadap hukum humaniter". Militer AS menyatakan sedang menyelidiki laporan tersebut.
Belum jelas apakah Iran telah sepenuhnya mengintegrasikan AI ke dalam sistem militernya, meskipun pada 2025 negara itu mengklaim telah menggunakan AI dalam sistem penargetan misilnya. Program AI Iran, yang terhambat sanksi internasional, dinilai masih tertinggal dibandingkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China.
Sebelum serangan terhadap Iran, pemerintah AS menyatakan akan menghapus Anthropic dari sistemnya setelah perusahaan tersebut menolak mengizinkan modelnya digunakan untuk senjata otonom sepenuhnya atau pemantauan warga AS. Namun, Claude tetap digunakan hingga proses penghentian bertahap selesai.
Sementara itu, pesaing Anthropic, OpenAI, menandatangani kesepakatan dengan Pentagon untuk menggunakan modelnya bagi tujuan militer.
"Keunggulan terletak pada kecepatan pengambilan keputusan, di mana proses perencanaan yang sebelumnya mungkin memakan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit atau detik," kata Leslie.
"Sistem-sistem ini menghasilkan serangkaian opsi bagi pengambil keputusan manusia, tetapi mereka memiliki rentang waktu yang jauh lebih sempit, untuk mengevaluasi rekomendasi tersebut," lanjutnya.
"Penerapan kecerdasan buatan sedang berkembang," kata Prerana Joshi, peneliti di Royal United Services Institute.
"Hal ini dilakukan di berbagai bidang pertahanan negara ... termasuk logistik, pelatihan, manajemen keputusan, dan pemeliharaan," ujarnya.
Ia menambahkan AI merupakan teknologi yang memungkinkan pengambil keputusan, dan siapa pun dalam rantai tersebut meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
"Ini adalah cara untuk mensintesis data dengan kecepatan yang jauh lebih cepat, yang bermanfaat bagi pengambil keputusan," katanya.
(wpj/dmi)


















































