Jakarta, CNN Indonesia --
Anak didik Herry Iman Pierngadi, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, gagal meraih gelar juara All England 2026 usai ditumpas wakil Korea Selatan.
Pelatih asal Indonesia ini mengatakan setidaknya ada dua catatan yang ia dapat dari All England 2026. Pertama kurang beruntung dan kedua kesalahan di momen krusial.
Pada partai final, Aaron/Soh takluk 18-21, 21-12, 21-19 dari ganda putra nomor satu dunia Kim Won Ho/Seo Seung Jae. Konsistensi permainan disebut masih jadi kendala.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aaron Chia/Sih Wooi Yik bermain bagus, tetapi mungkin keberuntungan tidak berpihak pada mereka untuk menjadi juara di All England," kata Herry dilansir dari New Strait Times, Senin (9/3).
"Namun, mereka harus menyadari kenyataan pahit di level tertinggi, tidak ada ruang untuk kesalahan pada titik-titik krusial. Inilah yang membedakan antara menang dan kalah."
Dalam pandangan pelatih yang suka memelihara burung kicau ini, Aaron/Soh sering putus asa. Untuk menjadi juara, mentalitas pemain tidak boleh kendur di tengah permainan.
"Aaron Chia/Soh Wooi Yik bermain bagus tetapi mereka tidak mengendalikan permainan dan seringkali putus asa untuk melakukan serangan mematikan. Tim Korea lebih tenang menjelang tahap-tahap krusial," katanya.
Herry yang dikenal sebagai Naga Api adalah salah satu pelatih tersukses dalam turnamen All England. Herry telah meraih 10 gelar juara selama 25 tahun karier kepelatihannya.
Kendati kecewa, Herry cukup senang. Pasalnya pasangan nomor dua dunia ini melaju ke partai final kejuaraan level 1.000 BWF secara berturut-turut. Ia yakin gelar super 1.000 akan segera datang.
"Di satu sisi, saya kecewa karena tidak dapat membantu Aaron Chia/Soh Wooi Yik menjadi juara, tetapi ada juga beberapa hal yang menggembirakan dari Birmingham," ucap Herry.
"Saya senang melihat mereka semakin konsisten di turnamen besar dan mampu tetap berpegang pada rencana permainan bahkan ketika berada di bawah tekanan," ujarnya.
(abs/sry)


















































