Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Prabowo Subianto ingin membuktikan Indonesia mampu mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan.
"Sekarang setelah kita swasembada pangan dibilang lagi, paling setahun-dua tahun. Enggak apa-apa. Kita buktikan tiap tahun kita swasembada," ujar Prabowo dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang, Rabu (7/1).
Menurut Prabowo, capaian swasembada tidak boleh berhenti sebagai target jangka pendek, tetapi harus dijaga secara konsisten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menyinggung adanya keraguan dari sejumlah pihak terhadap kemampuan Indonesia mencapai kemandirian pangan.
"Kalau banyak tokoh nyinyir mengatakan kita tidak bisa swasembada pangan, hari ini kita buktikan," ujarnya.
Prabowo mengatakan sejak awal ia memiliki cita-cita agar kebijakan pangan berdampak langsung pada keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Ia menyebut harapannya untuk melihat harga-harga kebutuhan dasar, seperti pangan, benih, dan pupuk, berada pada level yang bisa dijangkau rakyat.
"Saya ingin jadi presiden di mana harga-harga turun. Harga pangan turun, harga pupuk turun, harga benih turun, terjangkau di semua bidang," ujarnya.
Selain soal harga, Prabowo juga menyinggung peran sektor pertanian dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga petani. Ia berharap dengan kondisi pertanian yang lebih baik, anak-anak petani memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengenyam pendidikan dan memilih profesi di berbagai bidang.
"Saya ingin nanti anak-anak petani kembali. Anak-anaknya bisa sekolah tinggi, bisa jadi insinyur, bisa jadi dokter," kata Prabowo.
Ia menegaskan target swasembada tidak hanya terbatas pada satu komoditas. Pemerintah, menurutnya, menargetkan kemandirian pada berbagai jenis pangan strategis.
"Tidak hanya swasembada beras, jagung, singkong, semuanya kita swasembada nanti. Bawang putih, kita harus swasembada," ujarnya.
Hari ini, Prabowo resmi mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan pada 2025.
Mengutip data BPS, pada 2025, Indonesia surplus beras sekitar 3,52 juta ton lantaran produksi beras 34,71 juta ton melampaui konsumsi beras 31,19 juta ton.
Surplus beras tersebut menjadikan stok beras di awal tahun 2026 bisa mencapai 12,529 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Perum Bulog yang sebesar 3,248 juta ton.
(del/sfr)

















































