Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia akhirnya turun untuk pertama kalinya dalam enam hari terakhir pada hari ini, Jumat (6/3). Laju harga minyak bisa direm setelah Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan kemungkinan intervensi di pasar futures minyak untuk menekan kenaikan harga.
Selain itu, AS juga memberikan dispensasi kepada kilang India untuk membeli minyak Rusia guna meredakan keterbatasan pasokan akibat perang di Timur Tengah.
Harga minyak Brent turun US$1,14 atau 1,33 persen menjadi US$84,27 per barel. Sementara, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,46 atau 1,8 persen menjadi US$79,55 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam empat sesi perdagangan sebelumnya sejak perang dimulai, harga Brent telah melonjak 18 persen sementara WTI naik 21 persen.
Kemarin (5/3), seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan Departemen Keuangan AS diperkirakan akan mengumumkan langkah-langkah untuk mengatasi kenaikan harga energi akibat perang Iran, termasuk kemungkinan tindakan intervensi ke pasar futures minyak, meski belum ada rincian lebih lanjut.
Langkah intervensi tersebut akan menjadi upaya yang tidak biasa dari Washington untuk mempengaruhi harga energi melalui pasar keuangan, bukan melalui penambahan pasokan minyak fisik.
Untuk mengatasi keterbatasan pasokan minyak global, terutama di Asia, AS juga memberikan dispensasi bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia yang terkena sanksi dan tersimpan di kapal tanker.
Dispensasi pertama diberikan kepada kilang India, yang kemudian mulai membeli jutaan barel minyak mentah Rusia dengan pengiriman cepat, menurut sejumlah sumber. Langkah ini berbalik arah dari tekanan sebelumnya agar New Delhi menghentikan pembelian minyak Moskow.
Para analis mengingatkan lonjakan harga minyak saat ini masih relatif terbatas dibandingkan guncangan harga sebelumnya, terutama setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022, ketika harga minyak sempat melampaui US$100 per barel.
"Meski kepanikan terkait lonjakan harga minyak mulai meluas di luar kalangan pasar, penting untuk melihatnya secara proporsional: meskipun harga minyak naik hampir 20 persen bulan ini, harga saat ini hanya sekitar US$3,40 di atas rata-rata empat tahun terakhir," tulis analis IG, Tony Sycomore kepada Reuters.
Perang Timur Tengah yang dipicu AS dan Israel dengan melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu membuat distribusi minyak global terganggu.
Konflik itu menyebabkan kapal tanker tidak dapat melintas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak harian global.
Perang tersebut juga membuat sejumlah kilang minyak berhenti beroperasi, produksi minyak terganggu, dan pabrik gas alam cair (LNG) ditutup di kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi energi global.
(pta)


















































