Jakarta, CNN Indonesia --
Korlantas Polri mengungkap taksi listrik Green SM yang berhenti di perlintasan sebidang tanpa palang pintu hingga menyebabkan dua kecelakaan kereta pada Senin (27/4) mengalami masalah teknis korsleting.
"Kecelakaan ini diakibatkan dari korsleting atau permasalahan elektrik dari kendaraan taksi roda empat elektrik," kata Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri Kompol Sandhi Wiedyanoe kepada wartawan di Jakarta, Selasa (28/4).
"Di mana tepat permasalahan itu terjadi di perlintasan Ampera, perlintasan rel kereta api di Ampera," ujar dia lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum ada penjelasan detail apa yang dimaksud 'korsleting' di taksi listrik Green SM. Saat ini Green SM, yang sebelumnya bernama Xanh SM, menggunakan mobil listrik Vinfast Nerio Green (e34) sebagai armadanya di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SUV listrik ini diproduksi di Vietnam. Berdasarkan situs Vinfast Indonesia, e34 dibekali baterai 41,9 kWh untuk jarak tempuh 277 km (NEDC) sementara motor listriknya menghasilkan 147 hp dan torsi 250 Nm.
Informasi soal korsleting itu dibagikan kepolisian usai pemeriksaan sang sopir taksi tersebut. Sopir sekarang diamankan di Polres Metro Bekasi untuk pendalaman kasus ini.
Sandhi menjelaskan palang pintu di perlintasan kereta lokasi taksi listrik itu mogok dibuat warga, jadi taksi listrik Green SM tak bisa dikatakan menerobos.
"Kita tidak bisa katakan ini menerobos karena di perlintasan ini tidak ada palang pintu kereta api seperti yang kita lihat di sana. Palang pintu dibuat oleh masyarakat secara swadaya, budi baik dari para masyarakat di sini untuk mendukung keselamatan," kata dia.
Taksi Green SM yang berhenti di rel ditabrak KRL dari Cikarang menuju Jakarta. Kecelakaan pertama ini menyebabkan proses evakuasi dilakukan hingga mengganggu perjalanan kereta lainnya.
KRL lainnya terpaksa berhenti di Stasiun Bekasi Timur, kemudian kecelakaan kedua terjadi saat Kereta Api Argo Bromo Anggrek menabraknya dengan kecepatan 110 km per jam.
Menurut Sandhi informasi kecelakaan pertama belum sempat disampaikan menyeluruh ke Kereta Api Argo Bromo Anggrek.
Kecelakaan kedua telah menyebabkan 15 orang tewas dan 88 orang luka.
Green SM Indonesia dalam pernyataannya di media sosial menjelaskan insiden kecelakaan masih dalam proses investigasi dan belum ada kesimpulan resmi dari pihak berwenang.
Perusahaan dikatakan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dengan menyampaikan informasi relevan dan mendukung investigasi.
(fea)
Add
as a preferred source on Google


















































