Jakarta, CNN Indonesia --
Sebagian masyarakat Jakarta mungkin pernah melihat taksi Green SM wara-wiri di jalanan ibu kota. Layanan taksi yang menggunakan mobil listrik buatan VinFast ini 'produk impor' Vietnam. Bosnya adalah Pham Thu Huong.
Huong adalah istri pendiri sekaligus ketua Vingroup, Pham Nhat Vuong. Di grup tersebut, sang istri juga menjabat wakil ketua. Vingroup merupakan konglomerasi besar yang bergerak di sektor properti, ritel, kesehatan, pendidikan, hingga otomotif lewat merek mobil listrik VinFast.
Nah, mobil buatan VinFast inilah yang dipakai taksi Xanh SM yang di Indonesia lebih populer dengan nama taksi Green SM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layanan taksi Xanh SM dinaungi perusahaan transportasi GSM Smart and Green Mobility Joint Stock Company (GSM), Perusahaan ini fokus pada layanan mobilitas ramah lingkungan yang didirikan Pham Nhat Vuong pada 2023. Armada yang dipakai adalah mobil listrik buatan VinFast.
Di Vietnam, Xanh SM menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar layanan transportasi penumpang, bersaing dengan Be Group dan Grab Holdings.
Pada 4 Maret tahun ini, GSM mengumumkan perubahan dalam pendaftaran bisnisnya. Dalam perubahan itu, Pham Thu Huong diangkat menjadi Ketua Dewan Direksi.
Bisnis GSM antara lain:
1. Layanan taksi listrik
- Mengoperasikan merek taksi Xanh SM.
- Semua mobilnya menggunakan mobil listrik dari VinFast.
2. Platform ride-hailing
- Layanan pemesanan taksi listrik lewat aplikasi.
3. Penyewaan mobil listrik
- Menyewakan mobil listrik kepada mitra driver atau perusahaan transportasi lain.
Bisnis GSM cepat tumbuh, bahkan berekspansi ke luar negeri antara lain Indonesia, Laos, dan Filipina. Tahun ini perusahaan berencana memperluas operasinya ke 10 pasar tambahan.
Dalam struktur pemegang saham, Pham Nhat Vuong masih menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 49,04 persen. Sisanya dimiliki oleh anggota keluarganya dan Vingroup.
Jabatan-jabatan mentereng Pham Thu Huong di Vingrup maupun anak usaha bukan semata-mata karena ia istrinya pendiri grup dan pengendali saham.
Kesuksesan Vingroup merupakan hasil kerja bersama Pham Nhat Vuong sebagai ketua dan Pham Thu Huong sebagai wakil ketua. Huong telah bekerja bersama suaminya sejak awal perjalanan bisnisnya dan menjadi imigran di Ukraina.
Ia menguasai lebih dari 341 juta saham atau sekitar 4,4 persen dari total saham Vingroup. Dari kepemilikan saham inilah hartanya terus melonjak. Forbes menaksir kekayaan Huong tembus US$2,7 miliar atau sekitar Rp46 triliun (asumsi kurs Rp16.939 per dolar AS).
Meski tajir melintir, Huong dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dan jarang tampil di media. Penampilan publik pertamanya bahkan baru pada Januari 2022, saat menghadiri acara penghargaan VinFuture Awards pertama.
Pham Thu Huong lahir pada 14 Juni 1969 di Hanoi. Ia merupakan bagian dari generasi mahasiswa berprestasi yang dikirim belajar ke Uni Soviet, sebelum berganti jadi Rusia. Huong meraih gelar sarjana hukum internasional dari Universitas Nasional Kyiv (Ukraina).
Pada masa itu, Vietnam memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan negara-negara Eropa Timur, terutama Uni Soviet. Banyak mahasiswa Vietnam berbakat dikirim untuk belajar di bidang ekonomi, keuangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Bagi banyak anak muda Vietnam, belajar di Uni Soviet menjadi kesempatan untuk mengubah hidup dan keluar dari kemiskinan.
Suaminya, Pham Nhat Vuong, juga mahasiswa berprestasi yang dikirim bersekolah ke Uni Soviet. Vuong belajar ekonomi dan geologi di Institut Geologi Moskow.
Mereka saling mengenal melalui komunitas mahasiswa Vietnam di Uni Soviet, dan dari situlah jalinan asmara mereka dimulai. Pada 1993, Vuong lulus kuliah dan menikahi kekasihnya semasa kuliah, Pham Thu Huong.
Pasangan miliarder ini memiliki tiga anak, yakni Pham Nhat Quan Anh, Pham Nhat Minh Hoang, dan Pham Nhat Minh Anh.
Setelah menikah, mereka pindah ke Kharkiv, Ukraina. Pada 1990-an, mereka membuka restoran Vietnam bernama Thang Long di daerah yang banyak dihuni komunitas Vietnam.
Saat itu terjadi krisis ekonomi sehingga banyak supermarket di Kharkiv kosong dan masyarakat harus membeli barang menggunakan kupon makanan.
Vuong melihat peluang saat suasana krisis itu. Ia pulang ke Vietnam untuk membeli mesin produksi mi instan sederhana, lalu membawanya ke Ukraina dan mendirikan perusahaan Technocom pada 1990-an yang memproduksi mi instan merek Mivina.
Untuk memperoleh modal awal, pasangan ini meminjam US$10 ribu dari teman dengan bunga 8 persen per bulan, kemudian meminjam lagi dengan bunga 12 persen untuk memperluas produksi, termasuk produk seperti bumbu kering, tepung kentang, dan sup instan.
Pada 1995, Mivina resmi diluncurkan dan dengan cepat populer. Produknya dengan cepat menjadi makanan favorit masyarakat. Penjualannya tembus 1 juta bungkus hanya dalam satu tahun. Pada 2004, sekitar 97 persen penduduk Ukraina telah menggunakan produk tersebut.
Awalnya, Technocom hanya memiliki 30 karyawan, namun kemudian berkembang menjadi perusahaan makanan cepat saji ternama yang mengekspor produknya ke lebih dari 30 negara, termasuk Jerman, Polandia, dan Israel.
Selain mi instan, perusahaan ini juga memproduksi kentang tumbuk instan, bumbu, dan makanan kemasan, yang kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya Vingroup.
Pada 2002, Vuong mulai berinvestasi di Vietnam dengan tujuan membantu mengubah wajah negara tersebut dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Di tahun itu, ia mendirikan Vinpearl, perusahaan pariwisata, hotel, dan resort mewah. Pada 2002, pasangan ini mendirikan Vincom, perusahaan pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan (mal). Lalu, Vuong dibantu Huong, mendirikan Vingroup untuk menjadi induk kerajaan bisnisnya.
Pada periode 2000-2010, Vuong sering bolak-balik antara Vietnam dan Ukraina untuk mengelola bisnisnya.
Nestlé berkali-kali mencoba membeli Technocom, tetapi ditolak hingga akhirnya pada 2009 Vuong menerima tawaran itu agar bisa fokus pada bisnis di Vietnam.
Pada 2010, Technocom resmi diakuisisi oleh Nestlé dengan nilai yang tidak diungkapkan. Yang jelas, Technocom punya dua pabrik di Kharkiv, pendapatan sekitar US$100 juta per tahun, ekspor ke 20 negara, dan memiliki 1.900 karyawan.
(pta)


















































