Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot ribut dengan Menlu Israel Gideon Saar buntut masalah mantri sunat Yahudi yang dituntut atas dugaan sunat ilegal.
Dalam pernyataan di media sosial X, Prevot mengatakan peradilan di Belgia "bebas dari pengaruh politik apa pun."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ingat bahwa proses hukum yang dimaksud diprakarsai oleh perwakilan dari komunitas Yahudi sendiri," tulis Prevot.
Prevot pun menegaskan tuduhan bahwa Belgia mencoba melemahkan kebebasan beragama umat Yahudi merupakan fitnah.
"Menggambarkan hal itu sebagai keinginan suatu negara untuk melemahkan kebebasan beragama orang Yahudi adalah fitnah," tukasnya.
Pernyataan Prevot ini dilontarkan merespons kritik Saar terhadap dua mohel atau ahli sunat Yahudi yang dituntut pidana atas dugaan sunat ilegal.
Jaksa penuntut Antwerp pada Rabu (6/5) mengonfirmasi bahwa mereka akan menyerahkan kedua mantri sunat ke pengadilan atas tuduhan tersebut.
Tindak pidana itu diklasifikasikan sebagai "penyerangan atau penganiayaan yang disengaja dengan perencanaan terhadap anak di bawah umur dan praktik kedokteran yang melanggar hukum."
Belgia tidak melarang sunat untuk alasan non-medis, tetapi harus dilakukan dengan keterlibatan dokter.
Penyelidikan atas dugaan pidana ini sendiri dimulai setelah adanya laporan dari anggota komunitas Yahudi setempat.
Saar mengomentari penyelidikan ini dengan menuduh Belgia "menggunakan hukum pidana untuk menuntut orang Yahudi karena menjalankan ajaran Yudaisme."
Saar lantas menyebut tuduhan ini "aib bagi masyarakat Belgia."
Mengenai cekcok ini, Prevot menyarankan agar Saar bertemu dengannya untuk mengakhiri kesalahpahaman.
Karena Anda sendiri baru-baru ini mendesak agar diplomasi tidak dilakukan melalui Twitter (X), saya sarankan agar kita membahas semua masalah ini dalam pertemuan di Israel pada waktu yang paling sesuai dengan Anda, untuk mengakhiri kesalahpahaman apa pun," kata Prevot.
Dalam unggahan terpisah, Prevot juga mengkritik Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Belgia, Bill White, yang menyebut penyelidikan terhadap kedua mantri Yahudi "noda memalukan". Ia meminta White lebih menahan diri dan melihat jabatannya dalam konteks yang tepat.
"Tidak pantas untuk mengkritik suatu negara secara terbuka dan mencoreng citranya hanya karena Anda tidak setuju dengan proses peradilan. Saya sudah mengatakan ini kepada Anda. Apakah Anda bisa menerima jika Duta Besar kami di Washington melakukan hal yang sama?" tulisnya.
"Bukan tugas seorang duta besar untuk mendikte agenda pemerintah," pungkas Prevot.
(rds)
Add
as a preferred source on Google


















































