Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan sejumlah eksportir mengeluhkan soal kenaikan biaya logistik pengiriman barang ke Timur Tengah akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Menurut Budi, keluhan tersebut terutama berkaitan dengan meningkatnya ongkos pengangkutan barang, meskipun permintaan dari pasar Timur Tengah hingga saat ini masih relatif stabil.
"Dia (para eksportir) menyampaikan kalau memang ada beberapa pengaruh terutama untuk yang ke Timur Tengah. Tetapi, sebenarnya, permintaan dari Timur Tengah itu tidak turun," ujar Budi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan kenaikan biaya logistik tersebut terjadi pada hampir seluruh komoditas ekspor Indonesia yang dikirim ke kawasan tersebut.
"Ya, semua komoditas yang kita ekspor ke sana. Yang menjadi naik itu naik (biaya) angkutannya. Kendalanya itu. Jadi makanya itu problemnya," ujarnya.
Meski biaya pengiriman meningkat, Budi mengatakan aktivitas ekspor ke Timur Tengah masih tetap berjalan.
"Tapi dia (para eksportir) tetap ekspor. Cuma permintaan dari Timur Tengah sebenarnya enggak berubah. Tapi kendalanya memang ada sedikit kenaikan (biaya pengiriman)," ujar dia.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan sempat berencana mengumpulkan para eksportir untuk membahas potensi dampak konflik Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan masukan langsung dari pelaku usaha mengenai kondisi di lapangan, terutama terkait potensi gangguan jalur pelayaran internasional yang menjadi rute utama pengiriman barang ke kawasan Timur Tengah dan Eropa.
Pelaku industri juga sebelumnya mengingatkan bahwa konflik di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan biaya transportasi jika kapal harus mengambil rute yang lebih jauh untuk menghindari wilayah konflik.
(del/sfr)
Add
as a preferred source on Google


















































