Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan presiden Venezuela Nicolas Maduro yang digulingkan akan kembali hadir di pengadilan di New York City pada Kamis (26/3) untuk kedua kalinya sejak ditangkap Amerika Serikat.
Maduro (63) dan istrinya, Cilia Flores, telah ditahan di penjara Brooklyn selama hampir tiga bulan setelah pasukan komando AS menculik keduanya dari kompleks mereka di Caracas pada awal Januari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sidang hari ini dilaporkan akan berlangsung pukul 11.00 waktu New York dan kemungkinan akan diwarnai upaya Maduro untuk menggugurkan kasusnya.
Sementara itu, tim kuasa hukum Maduro sendiri sedang bermasalah lantaran masih belum ada kepastian siapa yang akan menanggung biaya pendampingan hukum Maduro yang kini dicopot dari jabatan presiden.
Pemerintah Venezuela berupaya menanggung biaya tersebut, namun karena sanksi Washington, pengacara Maduro, Barry Pollack, harus memperoleh lisensi khusus dari pemerintah AS yang hingga kini belum diberikan.
Kuasa hukum Maduro pun menjadikan hal itu sebagai senjata di dokumen pengadilan untuk menggugurkan kasus kliennya tersebut.
Pollack berargumen dalam dokumen pengadilan bahwa persyaratan lisensi tersebut melanggar hak konstitusional Maduro atas pembelaan hukum, dan meminta agar kasus dibatalkan atas dasar prosedural.
Dalam sidang pertamanya di AS pada Januari, Maduro menunjukkan sikap menantang dengan tetap mengklaim dirinya sebagai presiden Venezuela meski telah ditangkap.
Ditahan di Metropolitan Detention Center, penjara federal yang dikenal memiliki kondisi tidak higienis, Maduro dilaporkan berada sendirian di sel tanpa akses internet maupun surat kabar.
Dikutip AFP, seorang sumber yang dekat dengan pemerintah Venezuela mengatakan Maduro menghabiskan waktunya membaca Alkitab dan masih dipanggil "presiden" oleh beberapa tahanan lain.
Ia hanya diizinkan berkomunikasi melalui telepon dengan keluarga dan pengacaranya selama maksimal 15 menit per panggilan.
"Para pengacara mengatakan dia kuat. Dia bilang kami tidak boleh bersedih," ujar putranya, Nicolás Maduro Guerra.
Maduro dan istrinya ditangkap paksa oleh pasukan komando AS pada dini hari 3 Januari dalam serangan udara di ibu kota Venezuela yang didukung pesawat tempur dan pengerahan besar angkatan laut.
Sedikitnya 83 orang tewas dan lebih dari 112 lainnya luka-luka dalam serangan tersebut, menurut pejabat Venezuela, sementara tidak ada korban dari pihak militer AS.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

















































