Daftar Perusahaan yang Diramal Paling Cuan Jika Perang Iran Berakhir

2 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah perusahaan diramal bakal kecipratan untung besar jika perang Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel berakhir.

Beberapa sektor dan perusahaan berpotensi cuan dari menggarap proyek-proyek rekonstruksi energi hingga pelabuhan di seluruh kawasan Teluk usai perang dan kampanye pembersihan dimulai.

Mengutip Reuters, setidaknya ada 40 aset energi di sembilan negara di Timur Tengah telah mengalami kerusakan, mulai dari ladang minyak dan gas, kilang, serta pipa-pipa yang diperkirakan membutuhkan waktu untuk diperbaiki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menggambarkan krisis kali ini lebih parah jika digabungkan dua krisis minyak pada 1970-an, serta dampak perang Rusia-Ukraina terhadap pasokan gas.

Namun, sejumlah perusahaan diproyeksi ketiban cuan jika perang berakhir. Berikut daftarnya:

Konglomerat Teknik

Perusahaan teknik multinasional akan menjadi salah satu perusahaan pertama yang dipanggil ketika perang berhenti untuk membantu menilai kerusakan dan menyusun rencana rekonstruksi.

Perusahaan dengan pengalaman dalam memperbaiki dan membangun anjungan minyak, kilang, pipa, dan pabrik LNG akan memainkan peran penting dalam pemulihan Iran dan negara tetangga. Skala kerusakan akibat pemboman selama beberapa pekan terakhir membuka peluang proyek rekonstruksi dalam jumlah besar.

Sejumlah perusahaan AS yang memiliki lini bisnis kuat di sektor teknik dan jasa minyak dan gas antara lain SLB, Halliburton, Baker Hughes, Weatherford, serta Bechtel Corporation.

Dari dalam negeri, Iran memiliki sejumlah pemain utama seperti Khatam al-Anbiya yang berada di bawah kendali Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), serta MAPNA Group sebagai kontraktor terbesar di sektor minyak, gas, dan listrik.

Sejumlah perusahaan internasional juga dinilai memiliki peluang besar berkat pengalaman dan jaringan di kawasan Timur Tengah, di antaranya Saipem dari Italia, Technip Energies dari Prancis, Larsen & Toubro dari India, serta Sidara.

Selain itu, perusahaan milik negara China, yakni China National Petroleum Corporation (CNPC), NMDC Group dari Uni Emirat Arab, dan Petrofac juga diperkirakan akan bersaing dalam proses tender proyek rekonstruksi tersebut.

Perusahaan Minyak dan Gas Besar

Setelah jaringan pipa dan infrastruktur energi diperbaiki, produsen minyak dan gas global diperkirakan akan segera kembali melanjutkan aktivitas produksi di sumur-sumur migas, serta mengoperasikan kembali kilang minyak dan fasilitas LNG di kawasan tersebut secara penuh.

Perusahaan energi nasional diproyeksikan memegang peran kunci dalam tahap pemulihan ini, di antaranya National Iranian Oil Company (NIOC), QatarEnergy, Saudi Aramco, serta Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).

Raksasa energi internasional juga diperkirakan akan menjaga dan memperkuat posisinya di kawasan Timur Tengah antara lain ExxonMobil, TotalEnergies, dan Shell, yang diketahui memiliki operasi yang luas di wilayah tersebut.

Peralatan Pelayaran dan Infrastruktur

Infrastruktur vital lain seperti pelabuhan, jaringan listrik, dan sistem air di kawasan juga terdampak signifikan. Sejumlah pelabuhan utama di wilayah Iran dan sekitarnya dilaporkan rusak berat akibat serangan udara, termasuk puluhan kapal perang dan kapal dagang.

Pembukaan kembali jalur Selat Hormuz juga menjadi kunci untuk memulihkan arus energi dunia ke kondisi normal. Pemulihan fasilitas pelabuhan serta pembersihan jalur pelayaran diperkirakan membutuhkan keahlian khusus di bidang rekonstruksi pelabuhan dan penyelamatan maritim, dengan proses yang bisa berlangsung hingga bertahun-tahun.

Di sektor kelistrikan, perusahaan negara milik Iran seperti Tavanir bersama MAPNA Group akan menjadi tulang punggung pemulihan jaringan listrik domestik.

Sementara itu, Rosatom yang mengelola reaktor nuklir di Bushehr Nuclear Power Plant menghadapi tantangan lebih kompleks, terutama terkait dinamika politik global dan potensi keterlibatan Rusia dalam proses rekonstruksi yang sensitif.

Selain itu, fasilitas desalinasi yang memasok air bersih di Iran dan Bahrain turut terdampak, begitu pula sebagian jaringan listrik di Israel. Hal ini memperluas cakupan rekonstruksi lintas negara di kawasan.

[Gambas:Video CNN]

(fln/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Korea International