Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi La Nina akan berangsur melemah dan menuju fase netral. Namun, saat ini curah hujan tinggi hingga sangat tinggi masih akan dialami sejumlah wilayah Tanah Air.
"Perubahan suhu laut di Samudra Pasifik (ENSO) dan Samudra Hindia (IOD) dapat memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia," tulis BMKG dalam pemutakhiran ENSO dan IOD Dasarian II Februari 2026 yang diunggah di Instagram, Senin (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Dasarian II Februari, anomali SST di wilayah Nino3.4 menunjukkan indeks ENSO sebesar -0,27. Indeks tersebut diprediksi akan terus bergeser menuju netral pada pertengahan tahun.
Pada periode MAM (Maret-April-Mei), indeks ENSO diperkirakan berada di angka -0,11. Lalu, pada periode AMJ (April-Mei-Juni) diperkirakan akan menjadi 0,11.
Menurut BMKG, kondisi ENSO saat ini berpotensi meningkatkan curah hujan menjadi intensitas tinggi hingga sangat tinggi (>150 mm/dasarian). Berikut daftar wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan curah hujan:
- Sebagian kecil Bali.
- Kalimantan Timur bagian utara.
- Sebagian Sulawesi Selatan.
- Sebagian Nusa Tenggara.
- Sebagian Papua Tengah.
- Sebagian Nusa Tenggara Timur.
- Sebagian Papua bagian tengah.
Sementara itu, anomali SST di Samudra Hindia menunjukkan indeks IOD Dasarian II Februari berada di angka +0,4 atau IOD Netral. Pada Maret, IOD diperkirakan akan berada pada indeks negatif, tetapi kembali ke indeks positif dan berada pada kondisi IOD Netral hingga pertengahan tahun 2026.
"Kondisi IOD Negatif menunjukkan aliran massa udara dari Samudera Hindia ke Indonesia bagian barat, sehingga berpotensi terjadi peningkatan curah hujan tinggi - sangat tinggi (>150 mm/dasarian) meliputi sebagian Banten bagian selatan, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Kalimantan Barat bagian utara, sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian Jawa Barat," tulis BMKG.
Sebelumnya, BMKG memperkirakan musim hujan di beberapa wilayah, khususnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan berakhir pada Maret. Kemudian, musim kemarau akan dimulai pada bulan berikutnya, yakni pada April.
"Kalau di daerah yang dimaksud Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, itu berakhir kira-kira nanti di sekitar Februari sampai Maret," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani seusai rapat bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/1).
"Nanti bulan April, Mei, Juni, hingga nanti September itu masuk ke musim kemarau. Baru musim hujan kembali dimulai di Oktober," lanjutnya.
Faisal menyebut pihaknya memprediksi kondisi iklim di Tanah Air akan kembali normal mulai April. BMKG memperkirakan fenomena La Nina lemah yang terjadi saat ini tak akan berkembang menjadi kuat.
"La Nina lemah itu kan dipantau dari Nino 3.4 ya, yang ada di perairan Pasifik. Nah ini, La Nina ini nanti akan terus melemah hingga sampai bulan Maret. Ini berdasarkan prakiraan iklimnya," tuturnya.
Ia menjelaskan setelah La Nina melemah, kondisi iklim diprediksi normal pada April hingga akhir tahun. Setelah itu, pengaruh El Nino maupun La Nina akan hilang.
"Pada bulan April hingga akhir tahun itu cenderung dalam kondisi normal, ya tidak ada El Nino, tidak ada La Nina, jadi normal," terangnya.
(lom/dmi)


















































