Jakarta, CNN Indonesia --
Kapal perang Amerika Serikat kembali mencegat sebuah kapal tanker minyak mentah yang berlayar ke pelabuhan Iran akhir pekan lalu.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) pada Senin (27/4) melaporkan pencegatan ini adalah yang terbaru, di bawah blokade Selat Hormuz yang sedang berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kapal perusak rudal berpemandu USS Rafael Peralta (DDG 115) menegakkan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, terhadap M/T Stream setelah kapal itu mencoba berlayar ke pelabuhan Iran," demikian pernyataan CENTCOM, seperti dikutip Anadolu Agency.
CENTCOM menyebut insiden itu terjadi pada Minggu (26/4), namun tidak memberikan detail lebih lanjut, termasuk lokasi atau bagaimana mereka mengetahui kapal M/T Stream berlayar ke pelabuhan Iran. Menurut data di situs web Marine Tracker, kapal tersebut adalah kapal tanker bermuatan minyak mentah.
Pekan lalu, militer AS juga mencegat tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan dekat Indonesia. Tiga kapal itu kemudian dialihkan jalurnya dari posisi semula di dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.
Menurut sumber pelayaran MarineTraffic dan keamanan pada Rabu (22/4), salah satu kapal yang dicegat adalah supertanker Deep Sea berbendera Iran. Kapal itu membawa muatan sebagian minyak mentah dan terakhir terlacak melalui transponder publik di lepas pantai Malaysia sepekan lalu.
AS juga mencegat kapal lainnya berbendera Iran Sevin yang berukuran lebih kecil dengan kapasitas maksimum 1 juta barel dan terisi sekitar 65 persen. Data pelacakan menunjukkan kapal itu terakhir terlihat di lepas pantai Malaysia sebulan lalu.
Supertanker Dorena berbendera Iran juga dicegat dalam kondisi penuh mengangkut 2 juta barel minyak mentah, dan terakhir terlihat di lepas pantai India selatan tiga hari sebelumnya.
Pencegatan kapal tanker yang menuju Iran dilakukan kala negosiasi damai putaran kedua antara AS dan Iran masih belum jelas.
Awal pekan ini, Iran mengirimkan proposal gencatan senjata berisi tuntutan baru ke AS lewat Pakistan sebagai mediator. Dalam proposal itu, Iran mendesak blokade Selat Hormuz dibuka agar pelayaran dagang bisa lewat jalur tersebut.
Namun Trump disebut "tak senang" dengan proposal baru itu gara-gara tak membahas penghentian program pengayaan nuklir Iran.
(dna)
Add
as a preferred source on Google


















































