Jakarta, CNN Indonesia --
Koresponden dan kamerawan dari kantor berita Rusia, RT, Steve Sweeney dan Ali Rida Sbeity, mengalami luka-luka saat roket Israel menerjang lokasi terbuka dekat mereka sedang melakukan liputan di Lebanon, Kamis (19/3).
Momen itu terekam dalam video ketika Rida sedang mengambil gambar Sweeney yang memberikan laporan langsung di dekat Jembatan Al-Qasmiya, di Lebanon selatan.
Mengutip dari RT, Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia, Maria Zakharova, mengutuk Israel atas serangan yang mengenai jurnalis dengan tanda 'Pers' yang sangat jelas pada Kamis kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zakharova pun menyinggung aksi militer Israel (IDF) yang juga telah menyebabkan kematian ratusan jurnalis yang meliput agresi zionis di Gaza, Palestina sejak Oktober 2023 lalu.
Menurut Zakharova serangan terhadap jurnalis RT yang mengenakan tanda pers itu, "tidak dapat disebut kecelakaan mengingat pembunuhan dua ratus jurnalis di Gaza."
"Terutama karena roket tersebut tidak mengenai 'fasilitas militer strategis yang signifikan', melainkan lokasi di mana laporan tersebut sedang direkam," tulisnya di Telegram.
Dia juga menambahkan bahwa Moskow "menunggu tanggapan dari organisasi internasional."
Israel telah berulang kali menghadapi tuduhan sengaja menargetkan jurnalis dan pekerja media. Sejak eskalasi regional terbaru dimulai ketika AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari, Komite Perlindungan Jurnalis telah melaporkan bahwa setidaknya tiga jurnalis telah tewas di Iran dan Gaza.
Dan, dalam beberapa waktu terakhir Israel tengah gencar mengebom wilayah Lebanon, terutama di selatan ibu kota negara itu, Beirut. Israel berdalih memburu kelompok milisi Hizbullah di wilayah tersebut.
Kondisi dua jurnalis korban roket Israel
Dalam swarekaman video terpisah yang diunggah di akun media sosialnya, Rida mengaku kondisinya stabil, dan berseloroh,"Ternyata ketika rudal terbang ke arah Anda, Anda bisa mendengarnya."
Sementara itu Sweeney--saat diwawancara secara daring dalam program siaran The Shanchez Effect--mengatakan dia dirawat karena luka akibat pecahan roket atau peluru di lengannya.
"Saya kagum bahwa kami selamat. Kami sangat beruntung hanya mengalami cedera seperti itu," kata jurnalis tersebut.
"Ini adalah serangan yang disengaja dan terarah. Tidak ada keraguan tentang itu," tambah Sweeney.
Detik-detik serangan roket tak jauh dari titik Sweeney sedang melaporkan dan direkam Rida pun terekam. Saat roket menghunjam tanah tak jauh dari titik lokasi, mereka berdua terkejut dan terlempar. Kamera yang merekam Sweeney pun terjatuh.
Dari rekaman yang dibagikan di akun media sosial RT, kedua jurnalis itu menggunakan rompi bertuliskan 'PRESS' saat meliput di dekat jembatan yang tak jauh dari kota Tirus tersebut.
Mengutip dari RT, Jumat (20/3), mereka mengatakan sebuah pesawat Israel menembakkan rudal ke posisi pengambilan gambar mereka di dekat Jembatan Al-Qasmiya di Lebanon selatan. Lokasi itu tidak jauh dari pangkalan militer setempat.
Rida mengatakan pasukan Israel diduga 'dengan sengaja menyerang' kru jurnalis tersebut meskipun mereka mengenakan seragam yang menampilkan kartu identitas pers mereka.
Kamera Rida merekam momen serangan tersebut saat ia mengambil gambar laporan Sweeney. Rekaman tersebut menunjukkan rudal menghantam kurang dari sepuluh meter di belakang Sweeney saat ia sontak tiarap guna berlindung.
Beruntung nyawa Sweeney dan Rida masih terilndungi, dan hanya mengalami luka-luka sehingga harus menjalani perawatan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Rida membagikan momen dokter lokal mengangkat serpihan-serpihan peluru dari tangan Sweeney di media sosialnya.
Dalam video yang ditampilkan di akun media sosial Rida, dan juga disiarkan di laman artikel berita RT, terlihat dokter sedang melakukan tindakan medis pada lengan kanan Sweeney.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun mendesak Israel menghentikan serangan ke wilayah negaranya yang diklaim sebagai basis Hizbullah.
Dia menyatakan hal tersebut saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot pada Kamis kemarin.
Melansir dari AFP, Lebanon terseret ke dalam perang regional sejak awal Maret ini.
Israel menembakkan roket ke selatan Beirut yang diklaim sebagai basis Hizbullah, setelah dia dan AS menggempur Iran dan menewaskan pemimpin tertingginya Ayatullah Khamenei di awal Ramadan atau pada akhir Februari lalu.
Milisi Hizbullah juga mengirim roket ke Israel. Sebaliknya, Israel membalas dengan serangan udara besar-besaran di seluruh Lebanon dan serangan darat di wilayah perbatasan, yang secara gabungan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang.
(kid)
Add
as a preferred source on Google

















































