#USTAZTANYADONG
CNN Indonesia
Jumat, 20 Mar 2026 15:05 WIB
Ilustrasi. Memberi makan orang lain yang tidak berpuasa adalah perbuatan baik, dan tidak membuat kamu berdosa. (Pixabay.com)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bulan Ramadhan identik dengan ibadah puasa yang dijalankan umat Muslim dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak situasi yang menimbulkan pertanyaan.
Salah satunya ketika seseorang memberikan makanan atau minuman kepada orang lain di tempat umum, seperti di kereta atau bus, tetapi ternyata orang tersebut tidak sedang berpuasa.
Apakah tindakan itu membuat orang yang memberi makanan ikut berdosa?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertanyaan semacam ini kerap muncul di tengah masyarakat, terutama saat Ramadan, ketika sensitivitas terhadap ibadah puasa menjadi lebih tinggi.
Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Menurut KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi, memberi makanan atau minuman kepada orang lain pada dasarnya merupakan perbuatan baik dan tidak otomatis membuat seseorang berdosa.
"Tentu saja boleh, itu perbuatan baik. Namun tetap perlu memperhatikan adab dan situasinya," kata Ustaz Wahyul.
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, seseorang memang diperbolehkan tidak berpuasa. Misalnya perempuan yang sedang haid atau hamil, anak-anak, orang yang sudah lanjut usia, orang yang sedang sakit, maupun musafir yang menempuh perjalanan jauh bukan untuk tujuan maksiat.
Karena itu, seseorang tidak bisa langsung menilai bahwa orang lain yang makan atau minum di siang hari Ramadhan pasti melanggar kewajiban puasa.
Pentingnya menjaga adab di tempat umum
Meski memberi makan merupakan perbuatan baik, Wahyul mengingatkan agar tetap memperhatikan adab di ruang publik. Ia mencontohkan, seseorang yang tidak berpuasa sebaiknya tetap menjaga sikap di hadapan orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.
"Jangan mentang-mentang tidak berpuasa, lalu makan atau minum secara terang-terangan di depan banyak orang. Itu namanya tidak sopan," ujarnya.
Hal yang sama juga berlaku bagi orang yang berpuasa. Mereka juga perlu memiliki sikap lapang dan menghargai orang-orang yang memang tidak diwajibkan berpuasa karena alasan syar'i.
Dengan kata lain, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga sikap dan menghormati sesama.
Dalam ajaran Islam, puasa juga sering dikaitkan dengan kesabaran. Ulama tabi'in Mujahid bahkan menyebutkan bahwa puasa adalah bentuk kesabaran itu sendiri.
Puasa disebut sebagai sabar karena mengandung makna menahan diri, terutama dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Menjadi pribadi yang sabar tentu tidak mudah. Ada banyak ujian yang harus dilalui, dan puasa menjadi salah satu cara melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu.
Melalui ibadah ini, seseorang belajar menahan diri, menghargai orang lain, dan memahami bahwa tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama.
Karena itu, baik orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa tetap dituntut untuk saling menghormati.
Orang yang tidak berpuasa sebaiknya menjaga adab di hadapan orang yang berpuasa. Sebaliknya, orang yang berpuasa juga perlu memahami bahwa ada pihak-pihak yang memang memiliki alasan yang dibenarkan untuk tidak menjalankan puasa.
Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

















































