CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 12:30 WIB
Ilustrasi. Penyebarluasan foto atau video korban kecelakaan memiliki dampak sangat besar baik secara psikologis maupun kemanusiaan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di era media sosial, foto kecelakaan bisa menyebar sangat cepat, mulai dari grup WhatsApp hingga platform publik seperti Instagram, X, atau TikTok. Tak jarang, gambar yang beredar menampilkan kondisi korban secara jelas.
Jika kamu menemukan foto atau video korban kecelakaan, jangan disebarkan. Kenapa?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur jadi tragedi memilukan dan menorehkan trauma. Di tengah banjir informasi soal kecelakaan, netizen saling mengingatkan untuk tidak menyebarkan foto atau video yang menampilkan korban.
Di balik rasa penasaran atau niat memberi informasi, ada dampak yang jauh lebih besar, baik secara psikologis maupun kemanusiaan.
Secara hukum, ada batas yang perlu dipahami. Meski sering dianggap sebagai informasi publik, foto korban kecelakaan tidak bisa disebarkan begitu saja.
Dalam Pasal 28G ayat (1) UUD 1945, setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, kehormatan, dan martabat. Ini berarti kondisi tubuh dan wajah korban bukan sekadar konten, melainkan bagian dari hak privasi yang harus dihormati.
Dari sisi psikologis, dampak penyebaran foto korban tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga masyarakat luas.
Penelitian yang dipublikasikan di PNAS berjudul Media Exposure to Collective Trauma and Psychological Distress menunjukkan bahwa paparan gambar kekerasan atau peristiwa traumatis melalui media dapat meningkatkan stres dan distress, bahkan pada orang yang tidak mengalami langsung kejadian tersebut.
Temuan serupa juga muncul dalam sebuah tinjauan di Frontiers in Psychiatry bahwa semakin sering seseorang terpapar konten traumatis, semakin tinggi risiko munculnya gejala stres pascatrauma.
Bisa memicu retraumatisasi bagi keluarga
Bagi keluarga korban, melihat foto orang terdekat dalam kondisi tragis yang tersebar luas bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan. Paparan berulang terhadap materi traumatis dapat menghambat proses pemulihan.
Melansir dari American Psychological Association (APA), trauma yang tidak tertangani dapat mengganggu kesejahteraan emosional dan fungsi sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa menyebarkan foto korban tanpa kontrol berisiko membuat keluarga mengalami luka psikologis berulang.
Tak hanya terjadi pada keluarga korban, dampak psikologis ini juga berdampak bagi masyarakat. Paparan berulang terhadap gambar kekerasan atau grafis berkaitan dengan gejala seperti stres berat hingga gangguan mirip PTSD. Ini menunjukkan bahwa gambar korban bukan sekadar visual, tetapi bisa menjadi stimulus yang memengaruhi kesehatan mental.
Korban tetap punya martabat
Ilustrasi. Menyebarkan gambar korban berpotensi melanggar privasi, memicu dampak psikologis, dan mengabaikan nilai kemanusiaan. (iStock)
Di luar hukum dan psikologi, ada aspek yang sering terlupakan adalah martabat manusia. Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menegaskan bahwa martabat seseorang tidak berhenti bahkan setelah meninggal. Penyebaran gambar jenazah atau korban tanpa penghormatan dapat melukai keluarga dan masyarakat secara luas.
Jika memang diperlukan, foto hanya sebaiknya dibagikan secara terbatas untuk tujuan yang jelas, seperti,
- kepada petugas medis atau darurat,
- pihak kepolisian,
- keluarga inti, atau
- keperluan identifikasi resmi.
Di luar itu, menyebarkan gambar korban berpotensi melanggar privasi, memicu dampak psikologis, dan mengabaikan nilai kemanusiaan.
(anm/els)
Add
as a preferred source on Google


















































