CNN Indonesia
Jumat, 24 Apr 2026 11:15 WIB
Ilustrasi. Vaksin trivalen kini bisa diberikan ke anak. (iStock/hxyume)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah kekhawatiran orang tua soal keamanan vaksin, kabar baik datang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi ini memastikan vaksin influenza trivalen aman diberikan, termasuk untuk balita.
Anggota Satgas Imunisasi IDAI, Soedjatmiko, menyebut para pakar di Indonesia telah menyepakati bahwa vaksin influenza tiga antigen atau trivalen dapat digunakan secara luas.
"Para pakar di Indonesia sudah menyimpulkan bahwa vaksin trivalen itu aman dan boleh," ujar Soedjatmiko dalam diskusi yang digelar Kalventis di Jakarta, mengutip Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vaksin influenza trivalen dapat diberikan pada anak mulai usia 6 bulan dan dianjurkan untuk diulang setiap tahun. Pada anak usia 6 bulan hingga 8 tahun, vaksin diberikan dalam dua dosis dengan jarak minimal empat minggu.
Sementara itu, anak usia di atas 9 tahun cukup menerima satu dosis pada vaksinasi pertama.
Rekomendasi ini sejalan dengan panduan World Health Organization (WHO), yang menyatakan vaksin trivalen efektif melindungi dari virus influenza tipe A (H1N1 dan H3N2) serta tipe B Victoria.
Menurut Soedjatmiko, efektivitas vaksin trivalen setara dengan vaksin kuadrivalen yang sebelumnya digunakan. Perbedaannya, vaksin terbaru ini tidak lagi memasukkan strain influenza B Yamagata.
Hal ini didasarkan pada penelitian WHO yang menunjukkan bahwa sejak 2017-2018, virus Yamagata sudah tidak lagi berkembang secara signifikan pada manusia.
"Komposisi vaksin diperbarui agar lebih sesuai dengan virus yang benar-benar beredar. Vaksin yang cocok dengan virus yang sedang menyebar memiliki efektivitas sekitar 60 persen, sementara yang tidak sesuai hanya sekitar 30 persen," jelasnya.
Influenza bukan penyakit sepele
Dokter spesialis anak, Kanya Ayu, mengingatkan bahwa influenza tidak boleh dianggap ringan. Virus ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, bahkan berujung kematian, terutama pada balita dan lansia.
"Siapa saja bisa terkena. Ada beberapa jenis virus yang menyebabkan kematian terbanyak, salah satunya influenza," ujarnya.
Di Indonesia, pneumonia dan diare masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di bawah lima tahun, dan influenza termasuk salah satu pemicunya.
Pneumonia akibat influenza dapat merusak saluran pernapasan dan memudahkan infeksi lanjutan. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk berdahak, nyeri otot, hingga sesak napas yang bisa berakibat fatal, terutama pada anak dengan penyakit penyerta.
Virus influenza juga diketahui dapat bertahan cukup lama di tubuh anak, bahkan setelah gejala mereda. Artinya, anak tetap berpotensi menularkan virus ke orang di sekitarnya.
Secara global, tingkat serangan influenza pada anak mencapai 20-30 persen setiap tahun, lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang hanya sekitar 5-10 persen.
Karena itu, vaksinasi menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan sekaligus melindungi kelompok rentan.
Kanya menegaskan bahwa vaksin influenza tidak cukup diberikan sekali seumur hidup. Virus yang terus bermutasi membuat vaksin perlu diperbarui dan diberikan ulang setiap tahun.
Ia mengibaratkan imunisasi sebagai 'atap' dalam pembangunan kesehatan anak.
"Membangun anak itu seperti membangun rumah. Fondasinya nutrisi, dindingnya stimulasi dan kasih sayang, atapnya imunisasi. Kalau atapnya tidak ada, percuma," kata dia.
Lengkapi dengan pola hidup sehat
Selain vaksinasi, orang tua juga disarankan membiasakan anak menjalani pola hidup bersih dan sehat, seperti:
• memakai masker saat sakit
• menerapkan etika batuk
• rutin mencuci tangan dengan sabun
Orang tua juga diimbau tidak membawa anak yang sedang sakit bepergian, serta melindungi bayi yang belum bisa divaksinasi dari paparan lingkungan berisiko.
"Tak kalah penting, lengkapi imunisasi lain seperti campak-rubella, rotavirus, dan HIB untuk perlindungan yang lebih menyeluruh," kata dia.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google


















































