Humble Bragging, Fenomena 'Merendah untuk Meroket' di Medsos

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 12 Mar 2026 10:30 WIB

Humble bragging adalah cara pamer yang dibungkus keluhan atau kerendahan hati. Fenomena ini makin sering muncul di media sosial. Ilustrasi. Humble Bragging ternyata sering dilakukan oleh kita. (Getty Images/yongyuan)

Jakarta, CNN Indonesia --

Istilah humble bragging belakangan semakin sering terdengar, terutama di media sosial. Di Indonesia, fenomena ini bahkan populer dengan sebutan 'merendah untuk meroket', sebuah cara menyampaikan kebanggaan dengan nada seolah-olah merendahkan diri.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan humble bragging?

Mengutip Cambridge Dictionary, humble bragging adalah pernyataan yang tampak seperti keluhan atau rasa malu, tetapi sebenarnya merupakan cara untuk memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang dibanggakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti dari Cornell University SC Johnson School of Business, psikolog Övül Sezer, menjelaskan bahwa fenomena ini muncul karena manusia pada dasarnya ingin menunjukkan keberhasilan atau kualitas positifnya. Namun di saat yang sama, mereka juga ingin tetap terlihat rendah hati di hadapan orang lain.

Dalam penjelasannya yang dikutip oleh American Psychological Association, Sezer menyebut humble bragging sebagai bentuk pamer yang disamarkan melalui keluhan atau kerendahan hati yang dibuat-buat.

Banyak orang menggunakan cara ini karena menyadari bahwa membanggakan diri secara langsung sering dianggap tidak sopan. Dengan membungkusnya sebagai keluhan atau candaan, mereka berharap tetap bisa menyampaikan keberhasilan tanpa terlihat arogan.

Namun menariknya, penelitian Sezer menemukan strategi ini kerap berbalik menjadi negatif. Alih-alih terlihat rendah hati, orang yang melakukan humble bragging justru sering dianggap kurang tulus atau tidak autentik.

Mengapa humble bragging sering terjadi?

Fenomena ini juga berkaitan dengan cara seseorang membangun kesan di hadapan orang lain.

Dalam kajian yang dipublikasikan di Journal of Pragmatics, dijelaskan bahwa manusia sering ingin menunjukkan kualitas positif mereka kepada orang lain. Namun, karena membanggakan diri secara langsung bisa menurunkan tingkat kesukaan orang lain, sebagian orang memilih cara yang lebih halus dengan menyamarkan pujian terhadap diri sendiri.

Strategi inilah yang kemudian dikenal sebagai humble bragging, yakni membungkus sikap pamer dengan keluhan, candaan, atau pernyataan yang tampak merendahkan diri.

Meski demikian, respons orang terhadap humble bragging tidak selalu sama. Dalam beberapa konteks, pernyataan seperti ini bisa dianggap lucu atau menghibur.

Namun dalam banyak situasi, cara tersebut justru memicu kesan tidak tulus karena adanya ketidaksesuaian antara pesan yang disampaikan dan maksud sebenarnya.

Di era media sosial, humble bragging semakin mudah ditemukan. Unggahan yang terlihat seperti curhat atau keluhan kadang sebenarnya berisi pencapaian, gaya hidup, atau pengalaman yang ingin ditunjukkan kepada orang lain.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana manusia berusaha menyeimbangkan dua hal sekaligus, yakni ingin diakui atas keberhasilan, tetapi juga tetap ingin terlihat rendah hati. Tak heran jika istilah 'merendah untuk meroket' kemudian menjadi cara populer untuk menggambarkan perilaku tersebut di Indonesia.

(anm/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International