Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia melonjak 3,8 persen ke US$94,55 per barel pada perdagangan Senin (1/6) usai Iran menghentikan perundingan dengan Amerika Serikat (AS).
Langkah penundaan diambil Iran sebagai bentuk protes terhadap meluasnya invasi militer Israel di Lebanon. Teheran menuntut kedamaian Lebanon merupakan salah satu prasyarat gencatan senjata.
Kenaikan harga minyak juga didorong aksi saling serang antara AS dan Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$3,43 atau 3,8 persen menjadi US$94,55 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah AS (WTI) melesat US$3,87 atau 4,4 persen menjadi US$91,23 per barel.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan kekhawatiran terkait ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran utama minyak dan gas dunia, terus meningkat.
"Bahkan jika kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan langsung menciptakan lonjakan pasokan minyak," kata Sycamore dalam catatannya dikutip Reuters.
Sepanjang Mei, harga Brent dan WTI masing-masing turun sekitar 19 persen dan 17 persen. Penurunan bulanan tersebut menjadi yang terbesar secara nominal sejak Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 memangkas permintaan energi secara drastis.
Meningkatnya konflik di Timur Tengah, setelah Washington menjadi tuan rumah perundingan damai Israel-Lebanon pada Jumat lalu, memudarkan harapan perdamaian AS-Iran.
Padahal Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan segera memutuskan proposal kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada awal April.
Kemarin, seorang pejabat AS mengatakan Washington telah mengusulkan rencana deeskalasi bertahap.
Israel dipandang sebagai pihak kunci dalam perundingan AS-Iran tersebut. Sementara, Teheran berulang kali menegaskan Hizbullah dan Lebanon harus dilibatkan dalam setiap perundingan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin mengatakan tersendatnya proses diplomatik untuk mengakhiri perang dipengaruhi oleh rendahnya tingkat kepercayaan, sikap Washington yang dinilai kontradiktif, serta invasi Israel ke Lebanon.
Di sisi lain, survei Reuters menunjukkan Arab Saudi kemungkinan akan memangkas harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak mentah ke pasar Asia untuk Juli, untuk bulan kedua berturut-turut.
Bank investasi Goldman Sachs menyatakan lemahnya permintaan minyak dari China dan Eropa menjadi risiko utama yang dapat menekan proyeksi harga Brent pada kuartal IV ke level US$90 per barel dan WTI ke US$83 per barel.
Meski demikian, Goldman menilai gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah masih berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi.
(pta)
Add
as a preferred source on Google


















































