GERD Saat Ramadhan, Tetap Puasa atau Boleh Dibatalkan?

2 hours ago 2

#USTAZTANYADONG

CNN Indonesia

Selasa, 03 Mar 2026 15:00 WIB

GERD kambuh saat puasa, bolehkah membatalkannya? Simak penjelasan ulama berikut ini. Ilustrasi. Asam lambung naik hingga GERD parah boleh membatalkan puasa, asal diganti di kemudian hari. (iStockphoto/Tharakorn)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Menahan lapar dan haus sejak fajar hingga magrib bukan perkara mudah. Apalagi jika tubuh sedang tidak dalam kondisi prima.

Lantas, kapan sebenarnya seseorang diperbolehkan membatalkan puasa? Bagaimana jika asam lambung naik atau GERD kambuh di tengah hari?

Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi. Ia menjelaskan, Islam adalah agama yang memberi kemudahan, termasuk dalam hal ibadah puasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ustaz Wahyul, seseorang diperbolehkan membatalkan puasa jika berada dalam kondisi darurat atau memiliki uzur syar'i yang dibenarkan agama.

Beberapa keadaan yang diperbolehkan untuk tidak melanjutkan puasa antara lain:

1. Sakit

Orang yang sakit dan jika berpuasa justru memperparah kondisi kesehatannya, diperbolehkan untuk berbuka. Puasa dapat diganti di hari lain setelah sembuh.

2. Musafir (sedang bepergian jauh)

Seseorang yang melakukan perjalanan jauh untuk urusan kebaikan diperbolehkan tidak berpuasa. Namun, tetap wajib menggantinya di hari lain.

3. Haid dan nifas

Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan berpuasa dan wajib menggantinya setelah Ramadhan.

4. Hilang akal atau gila

Ketika seseorang kehilangan kesadaran atau akalnya, maka gugur kewajiban puasanya.

5. Muntah dengan sengaja

Jika muntah dilakukan secara sengaja, maka puasanya batal.

6. Berhubungan badan di siang hari Ramadhan

Ini termasuk pembatal puasa yang berat. Jika dilakukan di bulan Ramadhan, selain batal, pelakunya juga dikenakan sanksi (kaffarat) berupa puasa dua bulan berturut-turut.

Lalu, bagaimana dengan GERD atau asam lambung naik?

GERD atau penyakit asam lambung sering kali menimbulkan rasa perih di dada, mual, hingga muntah. Kondisi ini bisa sangat mengganggu, bahkan melemahkan tubuh.

Ustaz Wahyul menjelaskan bahwa jika asam lambung naik hingga menyebabkan kondisi sakit yang berat, membahayakan, atau mengganggu secara signifikan, maka orang tersebut diperbolehkan membatalkan puasanya.

Namun, jika keluhannya masih ringan dan dapat ditahan tanpa membahayakan kesehatan, maka dianjurkan untuk tetap melanjutkan puasa.

"Prinsipnya adalah tidak membahayakan diri sendiri. Jika sakitnya parah dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan puasa, maka boleh berbuka dan menggantinya di hari lain," jelasnya.

Artinya, keputusan membatalkan puasa karena GERD bergantung pada tingkat keparahan gejala yang dirasakan. Jika sudah sampai pada kondisi darurat atau mengancam kesehatan, Islam memberikan keringanan.

Puasa memang ibadah yang melatih kesabaran dan ketahanan diri. Namun, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menyiksa diri.

Bagi penderita GERD, penting untuk menjaga pola sahur dan berbuka agar tidak memicu kenaikan asam lambung. Hindari makanan terlalu pedas, asam, berlemak, serta makan dalam porsi berlebihan saat berbuka.

Jika ragu dengan kondisi kesehatan, tak ada salahnya berkonsultasi dengan tenaga medis agar puasa tetap aman dan nyaman dijalani.

Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International