Sleman, CNN Indonesia --
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta delapan pedemo yang sempat berunjuk rasa di Mapolda DIY agar dibebaskan.
Hal itu disampaikan Sultan kepada pedemo usai menemui Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono di tengah berlangsungnya massa aksi.
Raja Keraton Yogyakarta itu meminta delapan orang yang telah diamankan kepolisian untuk dilepaskan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Interaksi Sultan dan para pedemo ini juga diiringi lantunan Gendhing Raja Manggala yang diputar menggunakan pengeras suara di Mapolda DIY, Sleman. Sri Sultan mencoba menenangkan massa aksi lewat kesempatan ini.
"Saya sudah juga berbicara dengan bapak Kapolda, bersama saya ada delapan orang yang itu semua adalah teman-teman anda. Bersama ini juga bersama saya juga berada di sini, saya kembalikan kepada saudara-saudara. Karena itu teman anda, anda semua," kata Sultan kepada para pedemo di Mapolda DIY, Sleman, Sabtu (30/8) dini hari WIB.
Sultan mengaku besar harapannya dengan dilepaskannya kedelapan orang ini maka ruang dialog berkelanjutan menjadi terbuka antara pemerintah, kepolisian dan pengunjuk rasa.
Sultan pun bersedia menjadi corong untuk menyampaikan segala macam problematika yang dirasakan masyarakatnya ke pemerintah pusat. Termasuk, kalangan pengemudi ojek online (ojol) pascatragedi meninggalnya Affan Kurniawan yang dilindas rantis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (28/8) malam lalu.
Almarhum dilindas rantis Brimob yang diterjunkan untuk memecah massa aksi mengecam tunjangan fantastis DPR.
"Saya menghargai apa yang Anda semua lakukan. Apa yang Anda semua lakukan itu salah satu dari keinginan kita bersama untuk tumbuhnya demokratisasi di Jogja. Saya pun sepakat dengan itu," kata Sultan yang mengaku baru saja pulang dari Jakarta itu.
"Hanya saya berharap demokratisasi itu dilakukan dengan baik untuk mendidik kita semua termasuk diri saya pun juga. Karena apalagi Jogjakarta ini tidak ada kebiasaan selalu terjadi kekerasan-kekerasan di dalam membangun demokrasi," sambungnya.
Sultan turut meminta agar para pedemo di sekitaran Mapolda DIY segera menyudahi aksinya dan pulang ke kediaman masing-masing. Terlebih, waktu kala itu telah menunjukkan pukul 01.00 WIB lebih.
"Mari kita sama-sama pulang dan tidur. Kita sudah capek, semuanya ada di sini. Saya kira itu saja yang bisa saya sampaikan. Jadi nanti tindak lanjutnya nanti kita bisa didiskusikan," katanya.
Api berkobar di Mapolda DIY
Sementara itu, berdasarkan pantauan pada pukul 01.30 WIB, beberapa titik api berkobar di Mapolda DIY. Di antaranya dari kantor SPKT serta dari videotron di markas kepolisian tersebut.
Si jago merah juga nampak berkobar dari arah bangunan samping atau sebelah barat Mapolda DIY yang dahulu dipergunakan sebagai kantor sebuah media massa.
Hingga pukul 02.00 WIB, sejumlah massa aksi masih bertahan di sekitaran Mapolda DIY. Ada pula sebagian yang terlihat membutuhkan pertolongan medis.
Unjuk rasa pada Jumat lalu terjadi setelah pengemudi ojek online (Ojol) Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis Brimob pada Kamis malam saat demo mengecam tunjangan DPR di Jakarta, Kamis (28/8) malam.
Dalam beberapa hari terakhir, warga dari berbagai elemen berdemo di sekitar gedung DPR/MPR. Massa aksi mengkritik keras kebijakan DPR belakangan, salah satunya tunjangan rumah bagi anggota parlemen.
Selain di Yogyakarta, demo serupa juga terjadi di beberapa kota lain di Indonesia seperti Surabaya, Makassar, dan Bandung. Bahkan aksi masih membara Jumat malam.
(kum/kid)