DSSA Perkuat Portofolio Bisnis Energi Hijau dan Konektivitas Digital

6 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menegaskan komitmen untuk mendukung pemerintah dalam transisi energi hijau.

Wakil Presiden DIrektur DSSA Lokita Prasetya mengungkapkan perusahaan tengah memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya pada sektor panas bumi dan tenaga surya, untuk menciptakan bauran energi yang lebih seimbang.

"Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan," ujar Lokita saat menggelar media gathering di Jakarta, Kamis (2/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komitmen perusahaan salah satunya diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal.

"Ke depan kita akan mengembangkan bisnis solar panel ini, baik dari solar cell, bahkan mungkin kita membuat roadmap ke depan ke arah upstream untuk mendukung transisi energi dan ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pak Prabowo (Presiden RI Prabowo Subianto)," terangnya.

Lokita berharap pemerintah memberikan dukungan untuk pengembangan industri panel surya dalam negeri seperti yang dilakukan sejumlah negara, seperti India.

Misalnya, dalam hal pengaturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) hingga pembatasan impor. Dengan demikian, pemain lokal bisa bersaing dan menjadi raja di negeri sendiri.

Selain panel surya, perusahaan juga mengembangkan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis-mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah.

Menurut Lokita, langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang.

Guna memperkuat kapabilitas teknis dan operasional, perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC).

Di tempat yang sama, Direktur DSSA Daniel Cahya memperkirakan proyek geothermal itu akan menelan US$2 miliar atau sekitar Rp34 triliun (asumsi kurs Rp17 ribu per dolar AS) hingga 2029.

"Porsi financing-nya 75 persen debt, 25 persen dari equity," ujar Daniel.

Sektor energi sendiri akan tetap menjadi fondasi bisnis anak usaha Sinar Mas ini dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.

Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.

Langkah nyata ini telah diimplementasikan melalui akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan.

Dengan adopsi teknologi ini, perusahaan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon.

Bangun Data Center dan Infrastruktur Digital

Seiring pertumbuhan ekonomi digital, perusahaan juga terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital & teknologi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia.

Langkah strategis ini diperkuat melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia, termasuk pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) & kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK.

Sinergi ini dirancang untuk menghadirkan ekosistem digital yang lebih cerdas dan efisien di berbagai sektor industri terutama di kesehatan (healthcare), pendidikan (education) dan infrastruktur telekomunikasi & digital.

Saat ini, perusahaan mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57 ribu km, dengan lebih dari 9 juta homepass dan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia. Skala ini menjadi fondasi untuk memperluas akses digital di berbagai wilayah.

Penguatan infrastruktur ini juga didukung oleh pengembangan jaringan data center nasional yang mencakup 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado untuk memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah.

Selain itu, perusahaan juga tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW di jantung CBD Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester II 2026.

Menurut Daniel, peluang pasar masih terbuka besar, dengan sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal dan potensi pasar telekomunikasi nasional mencapai sekitar US$29 miliar. Pasar fixed broadband sendiri diproyeksikan tumbuh sekitar 10% setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan.

Lebih lanjut, sepanjang 2026, perseroan juga menjalankan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis, termasuk rencana stock split 1:25 yang akan dieksekusi pada 9 April 2026 mendatang.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Korea International