Dewan Ulama Sudah Hampir Sepakat Pilih Pengganti Ali Khamenei

1 day ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan ulama yang bertugas memilih pemimpin tertinggi Iran disebut hampir mencapai kesepakatan terkait sosok pengganti setelah tewasnya Ali Khamenei.

Anggota Assembly of Experts, Mohammadmehdi Mirbaqeri, mengatakan panel tersebut pada dasarnya telah mencapai konsensus mayoritas mengenai kandidat pemimpin baru Iran.

Kantor berita Mehr News Agency mengutip Mirbaqeri yang menyebut masih ada "beberapa hambatan" yang perlu diselesaikan sebelum keputusan final diumumkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehari sebelumnya, seorang ulama senior dalam majelis tersebut menyatakan para anggota akan bertemu "dalam satu hari" untuk menentukan pemimpin baru negara itu.

Dua anggota panel lainnya, yakni Mohsen Heidari Alekasir dan Ahmad Alamolhoda, juga menyatakan majelis telah memilih penerus pemimpin tertinggi.

Alamolhoda menyebut pengumuman resmi akan disampaikan oleh kepala sekretariat majelis, Hashem Hosseini Bushehri.

Media Iran sebagaimana dikutip Reuters, melaporkan sempat muncul perbedaan kecil di antara anggota majelis mengenai apakah keputusan tersebut harus diumumkan melalui pertemuan langsung atau cukup melalui mekanisme tertulis maupun daring.

Dalam sebuah video yang dirilis kantor berita Nournews pada Minggu, Heidari Alekasir menyebut pertemuan langsung sulit dilakukan dalam situasi saat ini.

"Ini situasi luar biasa. Majelis tidak bisa menggelar sidang pleno," katanya.

Ia menambahkan bahwa menjadikan majelis sebagai target serangan hanya akan menguntungkan musuh Iran dan merugikan revolusi.

Sejak perang meletus pada 28 Februari, serangan Israel dan Amerika Serikat dilaporkan menewaskan puluhan pejabat serta komandan militer Iran, termasuk Ali Khamenei.

Media Iran juga melaporkan serangan udara menghancurkan sebuah bangunan tambahan milik Assembly of Experts di kota Qom.

Menurut Heidari Alekasir, kandidat yang dipilih memenuhi kriteria yang pernah disampaikan Khamenei sebelum wafat, yakni pemimpin Iran harus menjadi sosok yang "dibenci oleh musuh" ketimbang dipuji oleh mereka.

"Bahkan 'Setan Besar' (Amerika Serikat) pernah menyebut namanya," kata dia.

Nama Mojtaba Khamenei mengemuka

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai kandidat paling mungkin menggantikan ayahnya.

Namun Trump menilai opsi tersebut tidak dapat diterima dan bahkan menyatakan dirinya ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran.

Mojtaba Khamenei, 56 tahun, dikenal memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps serta menjadi salah satu figur berpengaruh di kalangan ulama Iran.

Selama bertahun-tahun, ia disebut sebagai kandidat kuat penerus ayahnya meski tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan, selain bekerja di kantor Khamenei.

Khamenei sendiri memimpin Iran sejak 1989 setelah sebelumnya menjabat presiden hampir delapan tahun.

Nama Mojtaba juga sempat menjadi sorotan saat gelombang protes melanda Iran pada 2022 setelah kematian seorang perempuan muda dalam tahanan polisi moral terkait pelanggaran aturan berpakaian di Republik Islam tersebut.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International