Jakarta, CNN Indonesia --
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 249,11 poin atau minus 3,38 persen di level 7.129 pada Jumat (24/4) silam.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp24,33 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 47,12 miliar saham.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham melemah lima hari. Tak heran, performa indeks tercatat ambruk hingga 6,61 persen sepanjang pekan kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, P H Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Aulia Noviana Utami Putri mencatat selama periode tanggal 20 sampai dengan 24 April 2026 kemarin perdagangan saham bursa ditutup bervariasi.
Tercatat, kapitalisasi pasar bursa turun sebesar 6,59 persen dari Rp13.635 triliun menjadi Rp12.736 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian meningkat sebesar 4,44 persen dari 42,98 miliar menjadi 44,88 miliar lembar saham.
Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian pun turut mengalami penurunan sebesar 3,67 persen dari Rp20,36 triliun menjadi Rp19,61 triliun.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat yakni sebesar 1,09 persen dari 2,72 juta kali transaksi menjadi 2,75 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp2,002 triliun dan sepanjang tahun 2026 ini, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp42,80 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (24/4).
Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG pada awal pekan ini masih berpotensi bergerak di zona merah, meski pelemahannya dinilai lebih terbatas. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran support 6.995 dan resistance 7.270.
Oktavianus menjelaskan arah pergerakan pasar akan dipengaruhi oleh dua sentimen utama, yakni masih derasnya tekanan jual investor asing dan momentum pembagian dividen dari sejumlah emiten dengan imbal hasil menarik.
Dalam sepekan terakhir, aksi jual bersih asing tercatat mencapai Rp2,95 triliun di seluruh pasar, yang dinilai semakin menekan sentimen setelah adanya pembaruan indeks MSCI serta penurunan outlook rating Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings.
Kondisi ini, kata dia, memicu penyesuaian alokasi investasi pada saham-saham Indonesia oleh investor global.
"Pasar masih dibayangi tekanan jual asing pasca update MSCI dan penurunan outlook Fitch, namun di sisi lain sentimen pembagian dividen dengan yield menarik berpotensi menahan pelemahan karena mendorong minat beli pada saham-saham terkait," ujar Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (26/4).
Ia menambahkan sentimen dividen diperkirakan menjadi penopang tersendiri bagi pasar karena sejumlah emiten akan memasuki cum date dengan tingkat yield yang cukup atraktif, antara lain Astra International sebesar 4,6 persen, Prodia Widyahusada 6,5 persen, Ultra Jaya Milk Industry 8,2 persen, serta Central Omega Resources 4,3 persen berdasarkan harga penutupan Jumat (24/4).
Dengan yield tersebut, harga saham emiten pembagi dividen dinilai cenderung menguat karena permintaan investor yang memburu dividen.
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk atau ADMR yang ditutup menguat 1,90 persen ke posisi 1.880 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi ADMR dapat menyentuh level 2.030 pada pekan ini.
Kedua, saham PT Ultrajaya Milk Industry & Trdg Co Tbk atau ULTJ yang ditutup menguat 1,60 persen ke posisi 1.590 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi ULTJ dapat menyentuh level 1.700 pada pekan ini.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG pada sepekan ke depan masih memiliki peluang untuk menguat, meski kenaikannya cenderung terbatas. Menurut dia, IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.917 dan resistance 7.322.
Herditya menjelaskan ruang penguatan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik yang masih menjadi perhatian investor.
Faktor pertama adalah penantian pasar terhadap rilis suku bunga acuan The Fed yang secara konsensus diperkirakan tetap berada di level 3,75 persen. Selain itu, pelaku pasar juga akan menyoroti rilis data manufaktur China yang dapat memberi gambaran mengenai kondisi permintaan global.
"Selain menunggu keputusan Fed Rate, investor juga masih akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, harga komoditas minyak dunia, serta perkembangan emiten perbankan terutama bank-bank besar yang pada pekan lalu mendapat downgrade dari Fitch," ujar Herditya.
Menurut dia, stabilitas rupiah dan fluktuasi harga minyak masih menjadi indikator penting karena berpengaruh langsung terhadap aliran modal asing dan persepsi risiko di pasar domestik.
Di sisi lain, perhatian investor terhadap saham-saham perbankan diperkirakan masih tinggi mengingat sektor ini menjadi motor utama kapitalisasi pasar, sementara penurunan penilaian dari Fitch Ratings terhadap sejumlah bank besar berpotensi menahan optimisme investor dalam jangka pendek.
Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya merekomendasikan saham PT Daaz Bara Lestari Tbk atau DAAZ yang ditutup menguat 5,80 persen ke level 2.370 pada pekan lalu. Ia memproyeksi DAAZ dapat menyentuh level 2.910 pada pekan ini.
Kemudian, Herditya pun merekomendasikan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk atau BULL yang ditutup di level 530 pada pekan lalu. Ia memproyeksi BULL dapat menyentuh level 630 pada pekan ini.
Lalu, Herditya juga merekomendasikan saham PT Hartadinata Abadi Tbk atau HRTA yang ditutup di level 2.930 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan HRTA dapat menyentuh level 3.280 pada pekan ini.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(pta)
Add
as a preferred source on Google


















































