CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 10:30 WIB
Danau Cihuni, kawasan wisata alam yang viral di Gading Serpong. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia --
Udara sore di Danau Cihuni masih terasa berbeda dibanding sudut lain di Gading Serpong. Di saat jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan dan deretan bangunan yang terus tumbuh, kawasan danau ini justru menghadirkan suasana yang lebih pelan.
Kabut tipis kadang masih menggantung di atas permukaan air. Deretan pohon pinus tua berdiri rapat di sisi jalur jogging, sementara beberapa orang tampak berlari kecil menikmati udara segar yang kini semakin sulit ditemukan di kawasan urban Tangerang.
Di sinilah warga datang untuk mencari jeda dari kesibukan dan merisiknya hari yang harus dijalani setiap hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Danau Cihuni yang juga akrab disebut Danau Dihuni oleh sebagian warga perlahan berkembang menjadi salah satu ruang hijau favorit di kawasan Gading Serpong dan sekitarnya. Bukan tempat wisata dengan wahana ramai atau pusat hiburan modern, melainkan kawasan konservasi air yang justru menarik karena ketenangannya.
Luasnya mencapai sekitar 32 hektare. Danau alami ini berada di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, dan menjadi salah satu lanskap hijau yang tersisa di tengah laju pembangunan kawasan residensial dan komersial.
Kini, wajah Danau Cihuni mulai berubah. Area sempadannya dipercantik melalui pengembangan Maggiore Hills Park, ruang terbuka hijau yang membuat kawasan ini semakin nyaman untuk aktivitas outdoor.
Jalur pedestrian tertata lebih rapi, hamparan rumput hijau dirawat, dan sudut-sudut duduk mulai dipenuhi warga yang sekadar ingin menikmati udara luar.
Danau Cihuni, Gading Serpong. (CNN Indonesia/ Tiara Sutari)
Wisata olahraga di tengah kota
Pagi hari biasanya diisi para pelari dan pesepeda. Menjelang sore, giliran keluarga dan anak muda datang untuk berjalan santai atau duduk menikmati matahari terbenam di tepian danau.
Namun di balik tampilannya yang kini lebih modern, Danau Cihuni masih menyimpan jejak masa lalu.
Pohon-pohon pinus yang sudah tumbuh sejak puluhan tahun lalu tetap dipertahankan. Batang-batang tinggi itu kini menjadi peneduh alami di sepanjang jogging track dan jalur rumput hijau.
Kehadirannya membuat kawasan ini terasa lebih sejuk dan memiliki karakter yang berbeda dibanding taman kota biasa.
Nuansa 'liar' khas alamnya pun masih terasa.
Di beberapa sudut, suara burung masih terdengar jelas. Permukaan air danau memantulkan bayangan pepohonan rindang, sementara angin bergerak pelan membawa aroma tanah dan rumput basah.
Sulit membayangkan bahwa kawasan setenang ini berada tak jauh dari pusat keramaian Gading Serpong.
Danau Cihuni sendiri dikelola bersama oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang dan Paramount yang memiliki sebagian besar lahan di kawasan konservasi tersebut. Area yang sempat menjadi sengketa di masa lalu kini justru berkembang menjadi ruang publik yang ramai dimanfaatkan masyarakat.
Fungsinya pun tidak hanya sebagai kawasan resapan dan konservasi air. Danau ini juga tumbuh menjadi kawasan ekowisata sederhana yang dekat dengan aktivitas warga sehari-hari.
Masih ada pemancing yang datang membawa kail dan umpan untuk mencari ikan mujair, gabus, atau patin yang hidup di danau. Sebagian warga lain memilih bersepeda melewati jalur berkelok di sekitar kawasan situ yang dikenal cukup menantang, bahkan melewati area persawahan dan jembatan bambu.
Tidak sedikit pula yang datang tanpa tujuan khusus. Hanya duduk di bawah pohon. Mengobrol. Menghirup udara segar. Atau sekadar menikmati pemandangan air yang tenang.
Bagi warga Jabodetabek, terutama yang tidak punya banyak waktu untuk liburan jauh, Danau Cihuni menawarkan bentuk rehat yang sederhana. Tidak perlu tiket masuk, tidak perlu perjalanan panjang, dan tidak perlu itinerary rumit.
Cukup datang dan berjalan perlahan.
Di sekitar kawasan danau, pembangunan hunian bernuansa alam juga mulai tumbuh, salah satunya melalui kehadiran Matera Residence. Meski kawasan sekitar terus berkembang menjadi area permukiman modern, Danau Cihuni seperti menjadi pengingat bahwa ruang hijau tetap punya tempat penting di tengah kota yang terus bergerak cepat.
Dan mungkin itu yang membuat orang terus kembali ke sini. Bukan karena tempat ini mewah atau penuh atraksi, melainkan karena Danau Cihuni masih memberi sesuatu yang mulai langka di kota besar, yakni rasa tenang.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google


















































