Jakarta, CNN Indonesia --
Plt Direktur Utama Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Nursalam menyebut sebagian masyarakat latah membeli emas ketika kondisi global tidak menentu seperti sekarang.
Ia mengatakan peningkatan transaksi emas digital terlihat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan dalam tiga bulan awal tahun ini, volume transaksi sudah melampaui setengah capaian sepanjang tahun sebelumnya.
"Kalau kita lihat 2025 kami ini membukukan 56 ton. Ini baru tiga bulan saja ini sudah 31 ton, lebih dari setengahnya, artinya ini kan animo cukup tinggi," ujar Nursalam dalam acara Gold Under Fire: Investasi Emas di Tengah Gejolak Dunia, Rabu (15/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, ia menilai lonjakan tersebut juga dipengaruhi perilaku investor yang cenderung ikut tren saat terjadi ketidakpastian global.
Menurut dia, masyarakat kerap berbondong-bondong membeli emas ketika muncul isu geopolitik. Padahal, seharusnya membeli emas tidak perlu menunggu ada momen itu.
"Kita lihat kadang-kadang banyak orang latah juga sebenarnya beli emas. Beli saja enggak usah nunggu perang, tapi begitu ada gejolak itu lari-lari ke emas karena emas disebut safe haven," ujar Nursalam.
Ia menjelaskan emas merupakan instrumen investasi yang harganya selalu naik. Persepsi tersebut membuat emas menjadi pilihan utama ketika kondisi global bergejolak.
Nursalam mengaku melihat tingkat minat generasi z terhadap emas juga semakin terlihat. Kemudahan transaksi emas fisik secara digital seperti sekarang ini dinilai mendorong investor baru masuk ke instrumen tersebut.
"Sekarang Gen Z itu sudah mulai masuk ke emas karena dengan mudah dengan handphone sudah bisa beli emas," ujarnya.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google


















































