Bela Iran Mati-matian, Rusia-China Bentrok dengan AS di DK PBB

5 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat dan sekutu ribut dengan Rusia dan China di rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) saat membahas soal Iran, Kamis (12/3).

Dalam pidato di hadapan dewan, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan Rusia dan China berupaya melindungi Iran dengan menghalang-halangi kerja Komite 1737. Komite 1737 merujuk pada komite pengawas sanksi program nuklir Iran, yang dibentuk berdasarkan Resolusi DK PBB 1737 dan diadopsi pada 23 Desember 2006.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua negara anggota PBB harus menerapkan embargo senjata terhadap Iran, melarang transfer dan perdagangan teknologi rudal, dan membekukan aset keuangan terkait," kata Waltz, seperti dikutip Reuters.

"Ketentuan PBB yang akan diberlakukan kembali bukanlah hal yang sewenang-wenang, melainkan dirancang untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir, rudal, dan senjata konvensional Iran serta dukungan Iran yang berkelanjutan terhadap terorisme," lanjut dia.

Menurut Waltz, baik China dan Rusia sama-sama tidak ingin komite sanksi berfungsi sepatutnya "karena mereka ingin melindungi mitra mereka, Iran, dan terus mempertahankan kerja sama pertahanan yang kini sekali lagi dilarang."

Waltz berkata demikian usai China dan Rusia berupaya memblokir pembahasan komite soal Iran yang bulan ini dipimpin oleh AS. Upaya pemblokiran itu gagal karena ditolak dengan suara 11-2 dan dua abstain.

[Gambas:Video CNN]

Dalam pertemuan itu, Waltz menggarisbawahi pernyataan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pekan lalu bahwa Iran adalah satu-satunya negara non senjata nuklir di dunia yang memproduksi dan memperkaya uranium hingga 60 persen. Pengayaan uranium itu disebut tidak diawasi IAEA karena Iran menolak memberikan akses kepada mereka.

Sebagai informasi, uranium yang diperkaya hingga 90 persen dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir. Iran menolak pengawasan IAEA usai AS secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, pada rapat DK PBB menuduh AS dan sekutu mencoba mengobarkan "histeria seputar dugaan rencana Iran untuk memperoleh senjata nuklir" yang tidak pernah dikonfirmasi oleh IAEA.

"Hal ini dilakukan untuk melancarkan operasi militer lain terhadap Teheran dan untuk memastikan eskalasi besar-besaran situasi di Timur Tengah dan sekitarnya," kata Nebenzya.

Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, sementara itu menyebut Washington "penghasut" krisis nuklir. Ia mengatakan AS telah "menggunakan kekerasan secara terang-terangan terhadap Iran selama proses negosiasi, yang membuat upaya diplomatik menjadi sia-sia."

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, juga mengatakan pada kesempatan terpisah kepada wartawan bahwa program nuklir Iran selalu bersifat damai. Ia menegaskan Teheran tidak akan mengakui tuduhan untuk membenarkan sanksi terhadapnya.

Presiden AS Donald Trump telah menggunakan program nuklir Iran sebagai dalih serangan-serangannya ke Teheran.

Bulan ini, Trump menuduh Iran akan memiliki senjata nuklir dalam waktu dua pekan jika AS tidak buru-buru menyerang tiga situs nuklir utama Iran pada Juni tahun lalu.

Serangan pada 28 Februari, yang meletuskan perang panas di Timur Tengah hingga hari ini, juga menggunakan dalih yang sama.

Inggris dan Prancis sementara itu mengatakan kepada DK PBB bahwa pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran dibenarkan oleh kegagalan Teheran mengatasi kekhawatiran tentang program nuklirnya. Prancis menyebut uranium Iran saat ini cukup untuk membuat 10 perangkat nuklir.

(blq/rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International