Awan Cumulonimbus Potensi Selimuti Daerah Ini, Waspada Cuaca Ekstrem

8 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap potensi pembentukan awan-awan Cumulonimbus (CB) di beberapa wilayah Indonesia pada periode 15-21 April 2026.

"Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial >75 persen (FRQ/ Frequent) tanggal 15 April 2026 - 21 April 2026 diprediksi terjadi di Riau," tulis BMKG dalam Potensi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus, dikutip Selasa (15/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari situs BMKG, awan Cumulonimbus merupakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan lebat, kilat atau petir, angin kencang (downburst), hingga puting beliung.

Sementara itu, daftar panjang mengisi wilayah berpotensi awan cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75 persen atau bersifat occasional.

Beberapa wilayah yang berpotensi diselimuti awan cumulonimbus dengan cakupan hingga 75 persen di antaranya Aceh, Banten, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua Barat.

Berikut daftar lengkap wilayah yang masuk berpotensi diselimuti awan cumulonimbus dengan cakupan 50-75 persen:

- Aceh
- Banten
- Bengkulu
- Jambi
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Selatan
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
- Kepulauan Bangka Belitung
- Kepulauan Riau
- Lampung
- Laut Arafuru bagian Utara
- Laut Arafuru bagian barat
- Laut Arafuru bagian tengah
- Laut Arafuru bagian timur
- Laut Banda
- Laut Flores
- Laut Jawa bagian barat
- Laut Jawa bagian tengah
- Laut Jawa bagian timur
- Laut Maluku
- Laut Seram
- Maluku
- Maluku Utara
- Nusa Tenggara Timur
- Papua
- Papua Barat
- Papua Barat Daya
- Papua Pegunungan
- Papua Selatan
- Papua Tengah
- Riau
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kep. Mentawai
- Samudra Hindia barat Kep. Nias
- Samudra Hindia barat Lampung
- Samudra Hindia selatan Banten
- Samudra Hindia selatan Jawa Tengah
- Samudra Hindia selatan NTB
- Samudra Hindia selatan NTT
- Samudra Pasifik utara Maluku
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
- Selat Karimata bagian selatan
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Makassar bagian selatan
- Selat Makassar bagian tengah
- Selat Makassar bagian utara
- Selat Malaka bagian tengah
- Selat Malaka bagian utara
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Tenggara
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Teluk Bone

Prakirawan cuaca BMKG Muhammad Hakiki menyebut pembentukan Awan CB melibatkan mekanisme yang kompleks, salah satunya adalah pergerakan vertikal serta kemungkinan proses pembentukan es.

"Perbedaan muatan listrik di dalam sistem pembentukan Awan Cumulonimbus pun dapat menyebabkan terjadinya kilatan petir," katanya pada 2024 lalu.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terkait potensi bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi pada saat memasuki musim hujan.

"Awan Cumulonimbus kerap kali diasosiasikan dengan terjadinya hujan intensitas sedang hingga lebat dan dapat disertai kilatan petir dan angin kencang, bahkan puting beliung dan hujan es," tuturnya.

"Namun, fenomena awan CB adalah sesuatu yang normal, warga tidak perlu takut dan khawatir namun tetap waspada," imbuhnya.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International