Jakarta, CNN Indonesia --
Arab Saudi mengklaim memiliki cadangan mineral senilai sekitar US$2,5 triliun atau setara Rp41.943,62 triliun (asumsi kurs Rp16.777 per dolar AS).
Klaim ini membuat negara Timur Tengah tersebut mulai dilirik sebagai calon pemain penting dalam perebutan mineral langka atau rare earth yang kini makin strategis secara global.
Isu mineral kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan awal terkait Greenland yang mencakup hak atas mineral tanah jarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mineral kritis seperti rare earth kini menjadi tulang punggung teknologi energi bersih, kecerdasan buatan (AI), hingga peralatan militer canggih.
Namun selama ini, produksi rare earth dunia didominasi China. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat China menguasai lebih dari 90 persen output rare earth yang sudah dimurnikan.
Negeri Tirai Bambu juga menguasai lebih dari 60 persen produksi tambang rare earth global.
Dalam forum Future Minerals Forum di Riyadh, Direktur Eksekutif Minerals Center SAFE (Securing America's Future Energy) Abigail Hunter menjelaskan posisi China saat ini masih jauh lebih unggul dibanding negara lain dalam industri rare earth.
"China sudah melangkah jauh lewat investasi strategis selama puluhan tahun, proyek-proyek yang didukung negara, koordinasi dengan sektor swasta, dan ekspansi internasional," kata Hunter, melansir CNN.
Namun kini Arab Saudi mulai menyiapkan langkah besar di sektor mineral sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap minyak sekaligus memperkuat pengaruh geopolitiknya.
Arab Saudi mengklaim memiliki cadangan emas, seng, tembaga, dan litium, termasuk rare earth seperti dysprosium, terbium, neodymium, dan praseodymium. Mineral-mineral ini digunakan dalam mobil listrik, turbin angin, hingga komputasi berkecepatan tinggi.
Anggaran eksplorasi tambang Saudi melonjak 595 persen antara 2021 hingga 2025, menurut S&P Global, meski masih tergolong kecil dibanding negara tambang mapan seperti Kanada dan Australia. Pemerintah Saudi juga mulai agresif menerbitkan izin tambang baru bagi perusahaan lokal dan asing.
Namun, eksplorasi bukan berarti hasil bisa langsung dinikmati. Hunter mengingatkan bahwa industri tambang adalah proyek jangka panjang.
"Realitanya, pertambangan itu permainan jangka panjang. Dibutuhkan tiga sampai lima tahun untuk membangun fasilitas pengolahan, bahkan bisa sampai 29 tahun di beberapa wilayah," ujarnya.
Untuk mengejar ketertinggalan, Saudi memangkas birokrasi, menurunkan pajak investasi tambang, dan menyiapkan belanja besar-besaran. Dalam forum yang sama, perusahaan tambang milik negara Maaden mengumumkan rencana investasi US$110 miliar dalam satu dekade ke depan.
"Kami cukup rendah hati untuk menyadari bahwa kami tidak bisa melakukannya sendiri," ujar CEO MaadenbBob Wilt.
Meski nilai mineral Saudi masih kalah jauh dibanding cadangan minyaknya, yakni yang terbesar kedua di dunia, sektor ini dipandang strategis untuk masa depan. Dalam visi pembangunan Vision 2030, pertambangan ditetapkan sebagai salah satu pilar utama diversifikasi ekonomi.
Saudi juga membidik penguatan rantai pasok industri domestik, termasuk ambisi menjadi produsen kendaraan listrik. Para ahli menilai infrastruktur Saudi yang berkembang bisa menjadikannya pusat pemurnian mineral kritis regional, termasuk dari Afrika.
"Bermitra dengan negara-negara Afrika sangat masuk akal secara logistik untuk memproses mineral di sini," ujar Hunter.
Ambisi Saudi ini juga menarik perhatian AS. Selama ini, AS bahkan mengirim rare earth hasil tambangnya ke China untuk dimurnikan. Namun sejak China memperketat ekspor rare earth berat yang banyak digunakan militer, AS mulai mencari alternatif.
Pada November lalu, Saudi mengumumkan akan berinvestasi hampir US$1 triliun atau Rp16.777,45 triliun di sektor infrastruktur, teknologi, dan industri AS. Salah satunya mencakup kerja sama mineral, termasuk proyek kilang pemurnian rare earth di Saudi oleh MP Materials bersama Departemen Pertahanan AS.
Menurut Melissa Sanderson dari Critical Minerals Institute, keunggulan Saudi sebagai pusat pemrosesan mineral terletak pada pasokan energi yang stabil.
"Saudi punya energi yang andal dan keahlian Aramco yang bisa mengembangkan metode pemurnian lebih murah dan ramah lingkungan, berpotensi menyaingi China," ujarnya.
Meski demikian, rekam jejak lingkungan Saudi masih menjadi tanda tanya. Negeri itu termasuk yang menolak sebagian resolusi PBB terkait transparansi rantai pasok dan pembatasan dampak lingkungan pertambangan.
Sanderson juga menilai tantangan lain datang dari instabilitas Timur Tengah dan hubungan diplomatik Saudi dengan negara-negara Afrika kaya mineral. Namun Saudi masih bisa menggandeng negara-negara Asia Tengah yang memiliki cadangan serupa.
Menurut Sanderson, transformasi ekonomi Saudi ini pada dasarnya dirancang untuk mengangkat posisi politik negara itu sebagai pemain penting dalam geopolitik global.
"Ini bukan soal untung cepat. Ini strategi kekuasaan jangka panjang, pengaruh jangka panjang, dan keuntungan jangka panjang," terang Sanderson.
(del/sfr)


















































