Apa Hukumnya Tidak Menegur Teman yang Berbuat Dosa?

2 hours ago 3

#USTAZTANYADONG

CNN Indonesia

Kamis, 12 Mar 2026 15:30 WIB

Tidak menegur teman yang berbuat dosa bisa ikut berdampak pada diri kita. Simak penjelasan ulama tentang sikap yang seharusnya dilakukan. Ilustrasi. Ternyata jika tidak mengingatkan teman yang berbuat dosa, kita juga ikut berdosa. (BlueOlive/Pixabay)

Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seseorang berada dalam situasi serba salah saat melihat temannya melakukan hal yang dianggap dosa. Misalnya, teman yang berpacaran saat bulan Ramadan.

Pertanyaan yang kemudian muncul, jika kita tidak menegur atau mengingatkan, apakah kita juga ikut berdosa?

Pertanyaan semacam ini kerap muncul di tengah masyarakat, terutama ketika seseorang ingin menjaga hubungan pertemanan, tetapi juga ingin tetap berada di jalan yang benar menurut ajaran agama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

Menurut Ustaz Wahyul, membiarkan kemungkaran tanpa melakukan apa pun merupakan hal yang perlu diwaspadai dalam ajaran Islam.

"Tidak mengingatkan teman yang melakukan perbuatan dosa, itu kita juga bisa berdosa. Orang yang membiarkan kemungkaran terjadi tanpa melakukan apa pun, itu berbahaya," ujar Wahyul.

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat prinsip untuk tidak membiarkan kemungkaran berlangsung begitu saja jika seseorang mampu menegurnya.

Wahyul menambahkan bahwa dalam pandangan Islam, pacaran termasuk perilaku yang dilarang karena berpotensi mendekati zina. Padahal, mendekati zina saja sudah dilarang dalam ajaran agama.

"Bicara soal pacaran, itu kan haram karena kemungkinan mendekati zina sangat besar. Mendekati zina saja tidak boleh, apalagi dilakukan di bulan Ramadan," jelasnya.

Karena itu, menurutnya, seseorang sebaiknya tetap berusaha mengingatkan temannya dengan cara yang baik. Tujuannya bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai bentuk kepedulian agar teman tersebut tidak terus melakukan perbuatan yang dilarang.

Jika seseorang sama sekali tidak mengingatkan, dikhawatirkan sikap diam itu bisa dianggap sebagai bentuk persetujuan terhadap perbuatan tersebut.

"Kalau tidak diingatkan, bisa muncul anggapan bahwa kita menyetujui perbuatan dosa itu," katanya.

Menolak kemungkaran dalam Islam

Dalam ajaran Islam, terdapat prinsip amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara sesuai kemampuan masing-masing orang.

Pertama, menolak dengan tindakan jika memang memiliki kemampuan dan wewenang. Kedua, menolak dengan lisan, yaitu dengan menasihati atau mengingatkan secara baik.

Namun jika seseorang benar-benar tidak mampu melakukan keduanya, maka setidaknya menolak dengan hati. Artinya, ia tidak menyetujui perbuatan tersebut dan mendoakan agar orang yang melakukan dosa dapat berubah menjadi lebih baik.

"Kalau tidak bisa dengan tindakan atau lisan, minimal dengan hati. Tidak setuju dengan perbuatannya dan mendoakan agar dia berubah menjadi lebih baik," ujar Wahyul.

Sikap ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tetap menjaga prinsipnya meski berada di lingkungan yang mungkin melakukan hal yang tidak sejalan dengan ajaran agama.

Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International