Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi fenomena El Nino super yang dijuluki 'Godzilla El Nino' akan terjadi mulai April 2026.
Fenomena tersebut diperkirakan diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang bersama-sama dapat memperpanjang musim kemarau di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam unggahan bersama BRIN, Profesor Riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menjelaskan, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator, melansir Detik.
Godzilla El Nino merupakan variasi kuat dari fenomena ini yang dapat menyebabkan musim kemarau lebih kering dan panjang di Tanah Air.
Adapun IOD atau Dipol Samudra Hindia positif adalah pola iklim di Samudra Hindia yang membuat air hangat terdorong ke barat dan air dingin naik ke permukaan di bagian timur.
Di Indonesia, IOD positif ditandai dengan mendinginnya suhu laut di dekat Sumatra dan Jawa, sehingga curah hujan berpotensi menurun drastis.
Erma memprediksi Godzilla El Nino dan IOD positif akan berlangsung bersamaan sepanjang musim kemarau, mulai April hingga Oktober 2026.
Kondisi ini berisiko menyebabkan kekeringan yang dapat mengancam stok air dan gagal panen, terutama di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Erma mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah selatan Indonesia, untuk mulai menyetok air sejak sekarang sebagai langkah antisipasi.
"Mulai stok air dari sekarang ya, untuk antisipasi kekeringan di selatan Indonesia imbas El Nino-IOD+," tulisnya dalam unggahan di X pada Rabu (19/3).
Berdasarkan penelitian terkait El Nino April-September 2023, kata Erma, wilayah selatan garis ekuator Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan kekeringan signifikan pada Juni-September 2023.
Hal ini berdampak pada gagal panen di area pertanian di Jawa, Sumatra bagian selatan, serta kekeringan parah di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua bagian selatan.
Namun, dampak El Nino dan IOD positif tidak seragam di seluruh Indonesia. Wilayah utara Indonesia berpotensi mengalami kenaikan curah hujan.
Kondisi curah hujan tinggi memicu banjir besar di sejumlah daerah di Sumatra bagian utara dan barat, serta Kalimantan bagian tengah pada 2023.
(rti)
Add
as a preferred source on Google















































