Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim batal memerintahkan serangan AS ke Venezuela untuk kedua kali.
Trump menyampaikan alasan pembatalan serangan kedua tersebut ke Kota Caracas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam serangan ke Caracas, pasukan AS juga menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Jumat (2/1) lalu.
Trump mengaku pemerintahan sementara Venezuela yang dipimpin Delcy Rodriguez bersedia bekerja sama dengan AS setelah serangan Pentagon ke Caracas.
Melalui unggahannya di media sosial Truth Social, Trump juga memuji pemerintahan Delcy yang bersedia bekerja sama dengan pemerintahannya.
Delcy diangkat sebagai presiden sementara Venezuela setelah Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan diadili di pengadilan federal New York.
Ini merupakan pertama kalinya bagi Presiden AS mengumumkan rencana serangan gelombang kedua ke suatu negara hanya berselang sepekan setelah serangan pertama.
Trump menegaskan Venezuela "membebaskan tahanan politik dalam jumlah besar sebagai pertanda untuk 'Pencapaian Perdamaian.'"
"Ini sangat penting dan merupakan gestur cerdas," ia menambahkan.
Trump kemudian mengatakan bahwa kedua negara "bekerja sama dengan baik, terutama terkait pembangunan kembali infrastruktur minyak dan gas mereka dalam bentuk yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern."
"Berkat kerja sama ini, saya membatalkan rencana serangan gelombang kedua yang sepertinya tidak diperlukan lagi. Semua kapal akan tetap berada di posisinya untuk tujuan keamanan dan keselamatan," tulis Trump.
(bac)

















































