Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tak akan ada lagi negosiasi nuklir antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).
Dalam wawancara dengan PBS News pada Senin (9/3), Araghchi mengatakan pengalaman pahit Iran dikhianati dua kali oleh AS sudah cukup untuk menyetop pembicaraan dengan Washington.
"Anda tahu, kami memiliki pengalaman amat pahit dalam berbicara dengan Amerika," kata Araghchi, seperti dikutip Anadolu Agency.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi saya rasa berbicara dengan orang Amerika lagi tidak akan ada dalam agenda kami," pungkasnya.
Pernyataan Araghchi merujuk pada perang 12 hari Iran vs Israel pada Juni 2025, di mana saat itu Teheran sedang dalam negosiasi nuklir dengan AS. Setelah perang meletus, AS malah ikut-ikutan Israel menyerang Iran dan menghancurkan situs-situs nuklir Teheran.
Sebelum perang saat ini pecah, Iran dan AS juga sedang dalam putaran ketiga negosiasi, yang menurut Oman, selaku mediator, telah berjalan konstruktif. Namun, lagi-lagi, Israel dan AS menyerang Iran, bahkan membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Senin (9/3), Iran telah menunjuk pemimpin tertinggi baru, yakni Mojtaba Khamenei, putra mendiang Khamenei.
Saat ditanya apakah Mojtaba terbuka untuk bernegosiasi maupun gencatan senjata, Araghchi menolak berkomentar. Menurutnya, "masih terlalu dini baginya untuk memberikan pernyataan apa pun."
Namun, satu hal pasti yang diyakini Araghchi, Mojtaba tak berniat bicara dengan AS terutama setelah apa yang dialaminya baru-baru ini. Selain Khamenei, ibu, istri, anak, dan saudari Mojtaba tewas dalam serangan brutal AS-Israel.
Masa bodoh minyak dunia membara
Araghchi juga ditanya mengenai penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak dunia melambung. Soal ini, ia berargumen bahwa AS dan Israel yang mengakibatkan krisis energi terjadi.
"[Produksi dan transportasi minyak tersendat] karena serangan dan agresi yang dilakukan Israel dan Amerika terhadap kami," kata Araghchi.
Serangan keduanya, kata Araghchi, telah membuat seluruh wilayah Timur Tengah "menjadi tidak aman".
"Inilah sebabnya kapal tanker dan kapal-kapal lain takut melewati Selat Hormuz," ucapnya, sambil menekankan bahwa Iran tidak menutup jalur vital tersebut.
Araghchi juga mengatakan Iran sejak awal sudah memperingatkan bahwa serangan apa pun yang diluncurkan terhadap Teheran, akan dibalas dengan menargetkan aset-aset musuh di kawasan. Aksi Iran saat ini, ujar dia, murni bentuk bela diri.
"Kami sedang menghadapi tindakan agresi, yang betul-betul ilegal, dan apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri yang legal dan sah," tegasnya.
"[Kami] sudah memperingatkan semua orang di kawasan bahwa jika AS menyerang kami, karena kami tidak bisa menjangkau wilayah Amerika, kami akan menyerang pangkalan mereka di kawasan itu," ucap Araghchi.
Ia kemudian melanjutkan, "Sebagai akibatnya, perang akan menyebar ke seluruh wilayah. Kami tidak bertanggung jawab soal itu."
(blq/dna)


















































