Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah riset terbaru mengungkap prioritas investasi para pemimpin perusahaan teknologi informasi (IT) di Indonesia pada tahun 2025. Simak penjelasannya.
Menurut hasil riset terbaru bertajuk "IT Strategies and Priorities Amid Economic Uncertainty in 2025" yang dikeluarkan iCIO Community, prioritas itu yakni keamanan siber, tata kelola data, dan penguatan platform digital. Hal-hal tersebut diterapkan untuk tetap relevan dan memberikan dampak lewat bisnis mereka.
Riset ini dilakukan secara online pada Januari hingga Februari 2025 dan melibatkan lebih dari 50 pemimpin TI dari berbagai industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riset terbaru iCIO Community yang didukung oleh CTI Group menunjukkan bahwa keamanan siber, tata kelola data, dan penguatan platform digital masih menjadi tiga prioritas utama para Chief Information Officer (CIO) perusahaan di tahun 2025.
"Mengetahui prioritas berarti memahami arah investasi dan kesiapan dalam menghadapi tantangan di masa depan. Selain itu, hasil riset ini memberikan kesempatan bagi para pemimpin TI untuk memahami tantangan serta prioritas di industri lain, yang dapat menjadi dasar untuk inisiatif kolaborasi strategis ke depan," ujar David Wirawan, Koordinator Divisi Research iCIO Community dalam sebuah keterangan, Senin (24/3).
Menurut riset tersebut, 59 persen eksekutif menegaskan komitmennya pada tiga area tersebut. Hal ini menunjukkan konsistensi dari tahun-tahun sebelumnya, mengingat ketiganya dinilai krusial dalam menjaga ketahanan bisnis di era ketidakpastian.
Tren anggaran teknologi juga disebut mengalami pergeseran. Jika sebelumnya banyak perusahaan menggabungkan pendanaan antara belanja modal (CAPEX) dan operasional (OPEX), kini lebih dari 60 persen memilih model OPEX untuk fleksibilitas yang lebih tinggi. Skema langganan layanan berbasis cloud atau pay-per-use dinilai lebih adaptif menghadapi fluktuasi bisnis.
Namun, adopsi teknologi cloud disebut tidak selalu mulus. Sebagian besar perusahaan masih bergulat dengan mahalnya biaya pengelolaan, kesulitan mengintegrasikan sistem lama, serta tantangan kepatuhan terhadap regulasi data.
Untuk mengakalinya, sepertiga responden memilih strategi hybrid cloud, memadukan infrastruktur on-premise dengan migrasi bertahap ke cloud.
Regulasi juga menjadi perhatian serius, terutama sejak Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) berlaku penuh pada 2024. Hampir semua perusahaan kini mengalokasikan sumber daya khusus untuk memastikan kepatuhan, meski tantangan seperti kompleksitas aturan dan inkonsistensi data antar-sistem masih sering muncul.
Di sisi lain, artificial intelligence (AI) semakin banyak diadopsi, tidak hanya untuk efisiensi operasional tetapi juga meningkatkan pengalaman pelanggan. Lebih dari separuh perusahaan sudah menggunakannya, dan 37 persen berencana menerapkan AI dalam waktu satu tahun ke depan.
Menghadapi 2025, para pemimpin TI menyadari bahwa inovasi, fleksibilitas, dan kolaborasi akan menjadi kunci.
"Optimalisasi investasi teknologi, penerapan model operasional yang lebih fleksibel, serta peningkatan kapabilitas digital menjadi kunci untuk menjaga ketahanan bisnis. Ke depan, kolaborasi antarindustri dan pendekatan berbasis data akan semakin menentukan keberhasilan transformasi digital." ujar Edwin Sugianto yang juga koordinator Divisi Research iCIO Community.
(dmi/dmi)