Review Film: The Shadow's Edge

5 hours ago 6

Setelah sekian purnama, akhirnya muncul lagi film martial arts dan sosok villain yang amat memikat mata.

Jakarta, CNN Indonesia --

Jika saya hanya bisa memberikan satu alasan kuat untuk menyaksikan The Shadow's Edge, maka bisa dipastikan itu adalah Tony Leung Ka Fai. Aktor veteran ini sukses mencuri perhatian baik lewat raut muka, kharisma, hingga aksi laga hingga durasi panjang 2 jam 23 menit film ini tak terasa.

The Shadow's Edge berkisah tentang sekelompok anak muda yang merupakan pencuri crypto handal yang dilatih oleh Fu Long-Sheng alias The Shadow (Leung Ka-fai). Bukan hanya jago bela diri dan menyamar, tapi mereka juga menguasai teknologi canggih sehingga bisa mengelabui sistem pemantauan Sky-Eye milik polisi yang dipasang di seluruh wilayah Macau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika para polisi mulai hilang akal untuk mencari jejak pelaku, mereka berpaling pada Huang De Zhong (Jackie Chan), seorang pensiunan polisi yang terlatih dalam penyamaran dan pengintaian.

De Zhong kemudian menurunkan ilmunya dengan melatih sekelompok polisi muda untuk bisa mengandalkan panca-indra, pengamatan, dan intuisi, ketimbang bergantung pada mesin semata.

Premis film ini sesungguhnya sederhana, dan pada beberapa bagian sedikit mengingatkan saya pada film heist yang rilis lebih dari dua puluh tahun lalu yaitu Ocean 11.

Jika film itu memiliki George Clooney sebagai sosok sentral, maka The Shadow's Edge punya Tony Leung Ka-Fai yang menjadi jantung di semua aksi pengejaran.

Ia bukan hanya piawai membaca situasi dan meramu strategi, tapi juga seorang ahli bela diri jarak dekat yang lihai menggunakan pisau dengan brutal.

Film China The Shadow's Edge (2025). (Alibaba Pictures Group/Beijing Hairun Pictures Company/Dongfang Chenxiang Cultural Investment)Review film The Shadow's Edge: Chan bermain di zona nyamannya dengan karakter De Zhong yang lihai tapi cukup jenaka, dan membawa kita balik ke era-era keemasannya di layar lebar. (Alibaba Pictures Group/Beijing Hairun Pictures Company/Dongfang Chenxiang Cultural Investment)

Adegan ketika ia menghadapi sekelompok gangster dengan hanya mengandalkan satu pisau di tangan kanan juga membuat saya ingin memberikan standing applause di dalam bioskop.

Tapi bukan hanya soal aksi laga, akting Leung Ka-Fai dalam banyak momen pun begitu bercahaya. Adegan kejam atau gila, ia lahap semuanya dengan matang.

Bahkan hanya dengan berdiam diri atau gerakan mata yang sederhana, ia bisa menghadirkan ketegangan, terutama dalam momen-momen pengintaian. Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak melihat sosok villain yang nyaris sempurna sepertinya.

Selain Leung Ka-fai, Jackie Chan juga dengan mudah menghadirkan sosok Huang De Zhong. Chan bermain di zona nyamannya dengan karakter De Zhong yang lihai tapi cukup jenaka, dan membawa kita balik ke era-era keemasannya di layar lebar.

Aktris muda berbakat Zhang Zifeng yang mendapat banyak porsi peran emosional sebagai He Qiu Gou juga berhasil mengimbangi kedua aktor kawakan. Ia tak berakting berlebihan tapi dengan matanya bisa menyampaikan banyak hal. Demikian pula dengan Chisa yang sukses menjalankan peran ganda sebagai anak kembar Xi Wang dan Xi Meng (Simon).

Tony Leung Ka Fai berperan sebagai The Shadow dalam film The Shadow's Edge.Review The Shadow's Edge: bila hanya bisa memberikan satu alasan kuat untuk menyaksikan film ini, maka bisa dipastikan itu adalah Tony Leung Ka Fai. (Foto: Weibo Film The Shadow's Edge)

Satu pujian patut diberikan kepada penata laga (action director) Su Hang yang menghadirkan banyak adegan-adegan segar, mulai dari parkour kemudian skydiving dari menara Macau, hingga pertarungan hidup-mati antara Jackie Chan dan Leung Ka-fai yang jadi momen puncak film.

Akhirnya, setelah sekian purnama, saya punya lagi harapan bahwa film martial arts dari China masih memiliki tempat di layar lebar. The Shadow's Edge dan Twilight of The Warriors: Walled In (2024) menjadi bukti bahwa genre ini masih bisa sukses secara komersial jika ditopang dengan skrip dan akting para pemain yang bagus.

Meski demikian, The Shadow's Edge ini bukan sepenuhnya tanpa cela. Ada banyak sekali informasi yang harus ditelan sejak detik pertama film bergulir sehingga ada kalanya penonton kebingungan di beberapa bagian.

Awalnya saya mengira film ini akan lebih menitikberatkan pada persoalan manusia versus teknologi yang memang relevan dengan dunia belakangan ini, tapi sang sutradara ternyata masih menyuguhkan dua plot besar lainnya sekaligus: hubungan emosional bak ayah anak He Qiu Guo-Huang De Zhong, hingga soal relasi Fu Long-Sheng dan anak-anak asuhnya.

Semua alur cerita ini dipadatkan dan dikemas dengan ritme yang cepat --kemudian ditambah lagi dengan puluhan menit aksi laga-- sehingga terasa ada banyak sekali yang harus ditelan sekaligus.

Di tengah-tengah kepadatan ini, bangunan cerita mengenai 'kenapa bisa ada sekelompok pencuri yang masih butuh uang untuk mendapat kebebasan hidup bisa menguasai teknologi secanggih itu' pun tampaknya dikorbankan.

Lepas dari semua catatan itu, The Shadow's Edge tetap layak untuk mendapatkan bintang empat (plus) dari skala lima versi saya. Dari empat bintang itu, sudah pasti mayoritas terbesar berasal dari kepiawaian Tony Leung Ka Fai.

[Gambas:Youtube]

(vws)

Read Entire Article
Korea International