Review Film: Danur, The Last Chapter

5 hours ago 1

Endro Priherdityo | CNN Indonesia

Minggu, 22 Mar 2026 20:00 WIB

 The Last Chapter sebagai penutup yang klimaks dan berkesan dari perjalanan sebuah semesta horor sedekade. Review film: Sulit menyebut Danur: The Last Chapter sebagai penutup yang klimaks dan berkesan dari perjalanan sebuah semesta horor sedekade. (dok. MD Pictures via IMDb)

img-title Endro Priherdityo

Sulit menyebut Danur: The Last Chapter sebagai penutup yang klimaks dan berkesan dari perjalanan sebuah semesta horor sedekade.

Jakarta, CNN Indonesia --

Satu hal yang bisa diambil pelajaran dari serial film Danur selama 10 tahun adalah loyalitas Awi Suryadi, Lele Laila, dan Prilly Latuconsina yang dari awal hingga babak yang katanya terakhir, Danur: The Last Chapter.

Sulit menyebut Danur: The Last Chapter sebagai penutup yang klimaks dan berkesan dari perjalanan sebuah semesta horor sedekade, mengingat tak banyak perkembangan berarti baik dari segi ide cerita, naskah, eksekusi, hingga tampilan visual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Risa yang ditulis Lele Laila ini masih sama. Hanya mengandalkan jumpscare untuk menakut-nakuti penonton, tanpa memberikan sebuah cerita yang gong dan layak disebut puncak --apalagi penutup-- dari perjalanan cerita Danur.

Selama satu jam 38 menit, nyaris sepertiga filmnya hanya fokus pada ketakutan Risa mendapatkan teror dari adiknya yang jelas-jelas menunjukkan tanda diganggu makhluk gaib.

Bila seandainya ini adalah babak pertama dan Risa adalah seorang yang awam untuk masalah ini, mungkin logika cerita itu masih bisa diterima. Masalahnya, ini sudah 10 tahun dan setidaknya Risa sudah tiga kali menghadapi serangan berbagai dedemit jahat.

Seiring dengan Risa yang dikisahkan sudah bekerja sebagai ASN, sejujurnya ada harapan bahwa karakter itu memiliki kemampuan atau minimal sensitivitas lebih berkaitan dengan makhluk halus.

Apalagi tiga kasus sebelumnya yang ada di layar lebar terbilang besar dan menyangkut nyawa manusia. Namun selama sepanjang film Danur: The Last Chapter, Risa baru benar-benar bisa diandalkan hanya 20 menitan terakhir.

Jujur saja, plot cerita yang menempatkan Risa sebagai orang amatiran dengan dunia gaib itu membuat kesal. Ditambah lagi dengan ketidakberdayaan keluarganya yang sama sekali tidak memiliki insting bertahan hidup atau pun mencari solusi, bukan cuma meminta orang yang lagi bersikap 'aneh' untuk "cerita".

 The Last Chapter.Review Danur The Last Chapter: Kisah Risa yang ditulis Lele Laila ini masih sama. Hanya mengandalkan jumpscare untuk menakut-nakuti penonton, tanpa memberikan sebuah cerita yang gong dan layak disebut puncak --apalagi penutup-- dari perjalanan cerita Danur. (dok. MD Pictures via IMDb)

Bila semula durasi satu jam 38 menit terkesan menjanjikan cerita yang padat dan efisien, ternyata naskah Danur: The Last Chapter masih bisa dibuat setara dengan film pendek.

Agak sedikit berbeda dengan Lele, Awi Suryadi yang sudah duduk di kursi sutradara selama sedekade semesta Danur setidaknya menunjukkan ada sedikit upaya untuk memberikan hal yang baru dan penyegaran.

Awi menggunakan banyak teknis yang lebih dinamis, yang dieksekusi dengan baik oleh Arfian dari balik kamera. Selain itu, Awi juga terlihat sekali ingin menampilkan visual Danur 4 ini lebih estetik, mulai dari tone, pengaturan set syuting, hingga masalah pencahayaan.

Upaya tersebut patut untuk diapresiasi, setidaknya Danur: The Last Chapter memang memberikan suasana film yang atmosfernya gelap dan menegangkan. Sayangnya ia tidak memiliki standar yang sama untuk hal penting lainnya, seperti kekuatan naskah, atau beberapa karakter pendukung.

Salah satu hal yang mengganggu dari Danur 4 ini adalah tampilan 'teman-teman' Risa. Memang, dari film pertama hingga keempat ini selalu ada pergantian pemeran untuk Peter cs, tapi tak bisakah mendapatkan tampilan yang meyakinkan sebagai roh anak keturunan Belanda selain mengandalkan bedak kelewat putih dan wig kuning yang ganjil?

Tak jelas apakah tim casting serta tata rias dan kostum terlalu sibuk dengan urusan lainnya, sehingga tampilan karakter yang selalu ada sejak awal ini malah terlihat sebagai hasil kepepet atau 'yang penting pirang'. Sungguh, itu wig rambut kuning, bukan pirang.

Awi sebagai sutradara, apalagi selama 10 tahun menggarap Danur, mestinya sudah paham betul bagaimana karakter masing-masing tokoh dan penggambarannya dalam gambar bergerak. Ia juga yang bertanggung jawab memastikan visinya bisa dieksekusi dengan baik oleh tim teknis.

Sehingga ketika Awi terlihat lebih canggih pada aspek kontemporer dan abai menjaga hal yang sebenarnya sudah ada sejak awal, itu sebuah hal yang cukup mengecewakan, apalagi ini adalah film final.

 The Last Chapter.Review Danur The Last Chapter: Di sisi lain, Prilly Latuconsina tampaknya memang benar-benar ingin menyudahi perannya selama 10 tahun ini. (dok. MD Pictures via IMDb)

Di sisi lain, Prilly Latuconsina tampaknya memang benar-benar ingin menyudahi perannya selama 10 tahun ini. Dari segi performa sebenarnya Prilly sudah paham dengan karakter Risa dan masih konsisten sejak awal.

Sayangnya, ada beberapa cerita adegan di mana Prilly terkesan menerima saja naskah tersebut tanpa mempertanyakannya atas nama karakter yang sudah ia bawa selama sedekade. Sehingga Prilly terkesan lebih pasif dalam pengembangan karakter Risa di film ini, seperti pekerjaan karakternya yang menuntut harus sejalan dengan keinginan atasan.

Hal itu jauh berbeda dengan performa Prilly di film-film drama dia yang lain, yang lebih menunjukkan seperti ada keterlibatan total di depan kamera. Yah, setidaknya Prilly kini tak lagi teriak-teriak kebingungan ke berbagai arah.

Terlepas dari permasalahan film yang semestinya bisa jadi kado perpisahan yang manis, Danur: The Last Chapter memang lebih cocok sebagai film persembahan untuk para penggemarnya yang setia, bukan untuk penonton awam ataupun yang kelewat kritis. Tak banyak film Indonesia yang memiliki penggemar seloyal dan sevokal semesta Danur.

Meski begitu, keberadaan saga Danur memang memiliki warna sendiri dalam industri film Indonesia, terutama genre horor. Satu hal yang patut diapresiasi dari saga ini adalah konsisten dalam menghadirkan horor supranatural yang dibalut dengan kisah kelam masa penjajahan di Indonesia.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Korea International