Jakarta, CNN Indonesia --
Harga emas dunia masih berpeluang menguat pada 2026 dan bisa menembus level US$5.000 per troy ons (31,1 gram emas).
Sebagai gambaran, 1 troy ons setara 31,1 gram. Jika dikonversi, proyeksi harga tersebut setara dengan kisaran Rp2,5 juta-Rp3 juta per gram, tergantung pergerakan nilai tukar rupiah.
Proyeksi ini muncul di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) hingga tensi geopolitik internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menilai tren penguatan harga emas masih mendapat dukungan kuat pada 2026 terutama dari potensi pelonggaran moneter lanjutan di Negeri Paman Sam.
"Tren kelihatannya masih mendukung kenaikan harga emas di tahun 2026 karena kebijakan pelonggaran moneter lanjutan yang mungkin diterapkan oleh Bank Sentral AS, yang akan mendorong pelemahan dolar AS sehingga harga emas dalam dolar menjadi menguat," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (23/12).
Selain faktor kebijakan moneter, Ariston juga menyoroti tren pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia yang diperkirakan berlanjut sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dinilai masih berpotensi meningkat kembali.
"Iklim geopolitik yang masih memanas di 2025 ini kemungkinan bisa memanas lagi di 2026, saya lihat persoalan Rusia dengan Uni Eropa dan AS masih bergejolak," katanya.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Ariston melihat ruang kenaikan harga emas masih terbuka.
"Oleh karena itu masih ada ruang kenaikan harga emas ke arah $5000-US$6000 per troy ons," ujarnya.
Untuk pasar domestik, ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah turut mendorong harga emas dalam negeri.
"Nilai tukar rupiah yang masih tertekan juga membantu kenaikan harga emas dalam rupiah, mungkin bisa ke Rp2,8 juta-Rp3 juta per gram," kata Ariston.
Pandangan serupa disampaikan Analis Doo Financial Futures Lukman Leong yang menilai tren harga emas masih sangat kuat.
"Tren masih sangat bullish, konsensus umum melihat harga emas akan berkisar US$5000, namun menurut saya itu bisa lebih tinggi," ujarnya.
Ia menambahkan kenaikan tersebut relatif kecil jika dibandingkan lonjakan harga emas dalam dua tahun terakhir.
"Walau naik ke US$5000 tahun depan, yang hanya belasan persen, itu sangat kecil dibandingkan kenaikan hampir 30 persen di 2024 dan lebih dari 60 persen tahun ini," katanya.
Proyeksi para analis ini sejalan dengan pergerakan harga emas global yang baru-baru ini mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Harga emas spot sempat melonjak lebih dari 2 persen dan menyentuh level US$4.441,92 per troy ons, sebelum bertahan di kisaran US$4.434 per troy ons. Kontrak berjangka emas AS juga ditutup menguat di level US$4.469,40 per troy ons.
Kenaikan ini dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya tensi geopolitik, termasuk hubungan AS dan Venezuela, serta melemahnya dolar AS.
Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
(del/sfr)

















































