Jakarta, CNN Indonesia --
Keputusan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui negara Palestina, yang memicu langkah serupa dari negara-negara Barat lainnya, membuat marah Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS). Solusi dua negara kini digunakan lagi sebagai inti upaya diplomatik mengakhiri perang di Gaza.
Dalam surat kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu, Macron menulis bahwa "tekad kami untuk melihat rakyat Palestina memiliki negara mereka sendiri berakar pada keyakinan kami bahwa perdamaian abadi sangat penting bagi keamanan negara Israel."
Upaya diplomatik Prancis "bermula dari kemarahan kami atas bencana kemanusiaan yang mengerikan di Gaza, yang tidak dapat dibenarkan," tambah Macron.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu Israel pada Jumat (29/8) mendeklarasikan kota terbesar di Gaza sebagai zona pertempuran ketika jumlah korban tewas telah melampaui 63 ribu warga Palestina. Data itu didapat dari Kementerian Kesehatan Gaza terhitung sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Prancis, Inggris, Kanada, Australia dan Malta telah menyatakan akan meresmikan pengakuan terhadap negara Palestina dalam pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB, yang dimulai pada 23 September. Beberapa negara lain, termasuk Selandia Baru, Finlandia, dan Portugal, sedang mempertimbangkan langkah serupa.
Netanyahu menolak status negara Palestina dan berencana memperluas serangan militer di Gaza.
Geram
Israel dan AS mengatakan pengakuan negara Palestina justru bakal membuat militan semakin berani
Surat Macron itu muncul setelah Netanyahu menuduhnya "memicu" "api antisemitisme" dengan mengatakan seruannya untuk negara Palestina sebagai "keji."
Pekan lalu, Duta Besar AS untuk Prancis, Charles Kushner, juga menulis surat yang menyatakan bahwa "isyarat pengakuan negara Palestina justru membuat ekstremis semakin berani, memicu kekerasan, dan membahayakan kehidupan Yahudi di Prancis."
"Ada semacam perlombaan melawan waktu antara jalur diplomatik, dengan solusi dua negara kembali menjadi inti perdebatan, dan situasi di lapangan (di Gaza), yang setiap hari membuat solusi dua negara ini sedikit lebih rumit atau bahkan mustahil," kata pakar geopolitik Pascal Boniface, direktur Institut Hubungan Internasional dan Strategis yang berbasis di Paris, diberitakan AP News.
Boniface mengatakan beberapa pendukung solusi dua negara menunjukkan kekecewaan atas keputusan para pemimpin yang menunggu hingga September untuk secara resmi mengakui negara Palestina. Pengakuan itu dikhawatirkan bakal datang saat Gaza semakin menjadi kuburan.
Desak Israel berhenti ofensif
Macron dan para pemimpin internasional lainnya telah mendesak Israel menghentikan ofensifnya di wilayah Gaza yang sudah terkepung. Sebagian besar dari lebih dari 2 juta penduduknya sudah mengungsi, permukiman hancur dan warga kelaparan.
"Pendudukan Gaza, pemindahan paksa warga Palestina, kelaparan yang mereka alami ... tidak akan pernah membawa kemenangan bagi Israel," tulis Macron dalam suratnya kepada Netanyahu.
"Sebaliknya, mereka akan memperkuat isolasi negara Anda, menyulut mereka yang mencari dalih untuk antisemitisme, dan membahayakan komunitas Yahudi di seluruh dunia," ucap dia lagi.
Lebih dari 140 negara telah mengakui negara Palestina, tetapi sebagian besar bersifat simbolis.
(fea)