CNN Indonesia
Senin, 06 Apr 2026 21:00 WIB
Ilustrasi. Tren sleep divorce katanya bisa meningkatkan kesehatan karena dapat tidur berkualitas, tetapi bagaimana dampaknya ke pernikahan? (iStockphoto/leolintang)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejak beberapa tahun terakhir, sleep divorce atau tidur terpisah sudah jadi tren di kalangan selebritas mancanegara. Mulai dari Will Smith dan Jada Pinkett-Smith, hingga Cameron Diaz serta Benji Madden.
Seperti dilaporkan Hello Magazine, pasangan Will dan Jada sudah tidak tidur di kamar yang sama lagi. Namun mereka masih merupakan pasangan yang dekat dan orang tua penuh kasih sayang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sini, 'pisah ranjang' dalam tren sleep divorce bukan berarti ada masalah mendasar dalam pernikahan. Pasangan bisa saja memilih untuk tidur di kasur berbeda, tetapi rumah tangga tetap harmonis.
Namun apakah benar sleep divorce bisa bikin pasangan lebih sehat, baik secara jasmani maupun rohani? Berikut ini ulasannya.
Dampak sleep divorce pada kesehatan
Menurut survei dari American Academy of Sleep Medicine (AASM) pada 2025, sekitar 31 persen orang dewasa di Amerika Serikat memilih untuk melakukan sleep divorce, yakni tidur di ranjang atau ruang tidur yang berbeda demi kenyamanan bersama.
Kelompok usia 35-44 tahun (39 persen) paling banyak menerapkan ini, sedangkan usia 65 tahun ke atas (18 persen) yang paling sedikit melakukannya.
"Kami telah melihat pasien dan pasangan mereka menjadi lebih memperhatikan lingkungan tidur mereka saat mereka mencoba meningkatkan kesehatan tidur mereka," kata juru bicara AASM, Seema Khosla, seperti dikutip dari laman AASM.
Khosla menjelaskan, faktor seperti suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan sering menjadi alasan utama untuk memilih pisah ranjang. Ketika tidur terganggu oleh pasangan, bisa timbul rasa kesal yang berujung pada menurunnya empati dan kesabaran.
Dengan komunikasi yang baik, sleep divorce justru bisa memperkuat hubungan karena masing-masing mendapatkan tidur yang lebih berkualitas.
"Kuncinya adalah mengomunikasikan preferensi dan sengaja meluangkan waktu bersama sebelum tidur di tempat tidur terpisah," kata Khosla.
Survei juga menemukan banyak pasangan menyesuaikan kebiasaan tidur demi kenyamanan bersama.
Lebih dari sepertiga (37 persen) responden mengatakan mereka tidur pada waktu yang berbeda dari yang diinginkan untuk mengakomodasi pasangan. Adapun 15 persen mengatakan mereka menggunakan alarm senyap.
Hal ini menunjukkan, sleep divorce lebih soal menghormati ruang tidur masing-masing daripada tanda adanya masalah dalam hubungan.
Terkait kebiasaan tidur pasangan yang buruk, psikolog Laura Boubert dari University of Westminster berpendapat tidur yang buruk bisa melemahkan sistem imun, mengganggu pencernaan, dan meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes.
"Dalam situasi seperti ini, tidur terpisah dapat membantu. Pengaturan tidur terpisah memungkinkan setiap orang untuk mengoptimalkan lingkungan tidur mereka sendiri," tulis Boubert di The Independent.
Menurut Boubert, tidur terpisah juga dapat mendukung kebersihan tidur yang lebih baik. Setiap pasangan dapat menyesuaikan kebiasaan mereka dengan pola tidur masing-masing, seperti tidur pada waktu yang berbeda, membaca sebelum tidur, atau menghindari layar di tempat tidur.
Perilaku ini diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur dan, pada gilirannya, kesehatan secara keseluruhan yang lebih baik.
Baca halaman selanjutnya...
Add
as a preferred source on Google


















































