Jakarta, CNN Indonesia --
Akses terhadap layanan keuangan masih menjadi tantangan bagi sebagian ibu prasejahtera. Rasa sungkan, khawatir tidak dipahami, hingga ketentuan pinjaman yang mensyaratkan agunan kerap membuat mereka enggan mendekati lembaga keuangan formal.
Namun, pengalaman itu berubah ketika mereka berinteraksi dengan Account Officer (AO) PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pertemuan awal antara AO PNM dan calon nasabah umumnya berlangsung sederhana dan penuh kehangatan, mulai dari teras rumah, balai warga, hingga lingkungan perkampungan.
Dengan pendekatan bahasa yang mudah dipahami dan kesediaan mendengar, AO PNM membuka ruang dialog untuk menggali kebutuhan usaha para ibu prasejahtera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan. Tak jarang AO PNM sampai mengenal nama anak-anak nasabah, memahami ritme usaha harian mereka, hingga mengerti kapan harus memberi dorongan dan kapan cukup menjadi pendengar.
Relasi yang terbangun perlahan menghadirkan rasa aman bahwa ada yang mendampingi perjalanan mereka, apa pun kondisinya.
Setiap kunjungan rutin, setiap percakapan ringan, dan setiap solusi yang disampaikan dengan bahasa sederhana menjadi pengalaman yang membangun kepercayaan nasabah. Mereka tidak merasa dilayani dari jarak jauh, tetapi ditemani dari dekat.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan wujud komitmen PNM dalam menghadirkan layanan keuangan yang inklusif.
"PNM hadir untuk melayani masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan. Dengan akses pembiayaan yang bertanggung jawab dan pendampingan berkelanjutan, kami ingin mereka mendapat kesempatan memiliki produk keuangan yang aman," ujarnya.
Menurut Dodot, pembiayaan tanpa pemberdayaan tidak akan cukup. PNM tidak hanya memberikan modal, tetapi juga pengetahuan, pendampingan, dan penguatan kapasitas usaha melalui Account Officer.
"Tujuannya agar kehidupan nasabah benar-benar menjadi lebih baik dan berkelanjutan," tambahnya.
Di balik itu semua, AO PNM menjalankan perannya dengan hati. Mereka memahami bahwa bagi nasabah, layanan keuangan bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari upaya bertahan dan memperbaiki kehidupan keluarga.
Ketika pengalaman tersebut dirangkai secara konsisten, lahirlah ikatan emosional yang kuat antara nasabah dan PNM.
Saat ibu-ibu prasejahtera merasa didengar, dimengerti, dan didampingi, di situlah pelayanan PNM terus berupaya menghadirkan rasa aman, harapan, dan keberanian untuk membangun masa depan yang lebih baik.
(ory/ory)
















































